Wisdoms of the Eight
Oleh: Maulana M. Fikri
Tahukah kalian bahwa
rata-rata terjemahan Al-Qur’an yang kita pegang saat ini di Indonesia (dan juga
beberapa Al-Qur’an Internasional), bukanlah terjemahan Al-Qur’an yang
sebenarnya, namun merupakan tafsiran yang disetujui oleh berbagai ulama’ besar?
Tafsiran yang diberikan saat ini, adalah untuk menyatukan pemahaman tentang
ayat-ayat Al-Qur’an, serta menghindari tafsiran-tafsiran yang menyesatkan umat.
Harus saya akui bahwa, ulama-ulama itu memiliki tujuan yang baik, terutama
untuk menyatukan umat Islam yang terdiri atas berbagai aliran karena
masing-masing aliran memiliki pemahamannya tersendiri terhadap agama Islam.
Namun, saya juga tidak menyalahkan jika karena membaca ayat-ayat Al-Qur’an,
kita dapat memiliki sudut pandang yang berbeda dari orang lain. Seperti yang
saya bilang pada artikel sebelumnya, bahwa seorang individu menyimpulkan
ataupun menyikapi suatu kejadian berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang
telah mereka himpun. Karena itu, wajar saja jika kita memiliki opini yang
berbeda-beda.
Mungkin memang sudah
menjadi suratan takdir, dimana kita terpisah-pisah menjadi berbagai aliran,
Bahkan agama-agama samawi sebelumnya juga memiliki nasib yang sama,
terpecah-belah karena terdapat pemahaman yang berbeda terhadap agama mereka.
Contohnya adalah, agama Hindu yang semula adalah satu kesatuan, lambat laun
terpecah belah, hingga muncul agama Buddha sebagai pesaingnya. Nasib yang sama
dialami oleh kaum Nasrani, dimana pemahaman mereka terbelah menjadi Kristen
Ortodoks dan Kristen Protestan. Islam juga tak luput dari takdir ini, dimana
saat ini terdiri dari berbagai aliran yang berbeda, dari NU, Muhammadiyah,
Syiah serta aliran lainnya.
Memiliki dan
mempelajari suatu kitab samawi adalah berkah tersendiri; namun kitab-kitab ini
juga merupakan ujian bagi kita. Terpecah-belahnya umat-umat beragama, memang
tak dapat dihindari, sehingga hal ini memang tidak dapat disalahkan ataupun
dibebankan pada kaum tertentu. Karena dari ayat-ayat kitab samawi-lah, kita
terpisah-pisah. Ayat-ayat dalam kitab samawi, terdiri dari dua jenis, yaitu
ayat yang jelas dan ayat yang tidak jelas. Sikap kita terhadap ayat-ayat
inilah, yang nantinya akan memilah kita menjadi golongan-golongan, dari orang
yang beriman, bertakwa, munafik, bukan orang beriman serta kafir.
Melihat bahwa tafsiran
Al-Qur’an, yang telah disetujui oleh ulama-ulama besar Indonesia tidak
menyelesaikan masalah akan perpecahan umat Islam ini, maka saya tidak akan
melarang jika diantara kita memilih aliran tersendiri, ataupun tidak memilih
suatu aliran namun tetap mempelajari Al-Qur’an itu sendiri. Pada akhirnya,
apapun yang kita pilih, saya harap kita dapat mempertanggungjawabkannya nanti
di Hari Penghakiman.
Seandainya ada suatu
hal yang saya inginkan, adalah terjemahan Al-Qur’an dikembalikan pada
terjemahan sesungguhnya, bukan tafsiran atas berbagai ulama. Meskipun tafsiran
itu bersifat baik, untuk meluruskan pemahaman tentang Al-Qur’an, namun tafsiran
tersebut tetap bukanlah terjemahan Al-Qur’an yang sesungguhnya, bahkan dalam
keadaan ekstrim, dapat mengubah ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri (dalam Bahasa
Indonesia). Beruntung bahwa Al-Qur’an diberikan dalam bahasa Arab, yang entah
bagaimana isi Al-Qur’an dalam bahasa Arab ini tidak berubah setelah 1400 tahun
lamanya.
Semoga umat Islam terhindar atas musibah yang
menimpa kaum Nasrani pada dahulu kala. Saat-saat yang dikenang sebagai “the
dark age of Europe” itu berada dalam perpecahan besar. Hal ini karena, adanya
pastor-pastor tertentu yang menafsir (mengubah) beberapa ayat Al-Kitab sebagai
suatu bentuk pembenaran atas perbuatan mereka. Ayat-ayat yang diubah, meliputi
jumlah kekayaan yang diberikan pada gereja, berbagai peraturan yang dibuat
untuk melindungi diri dari hukum, serta berbagai hal lainnya. Perpecahan itu
menjadi semakin besar hingga terdapat berbagai aliran yang menyatakan
kebenarannya tentang Al-Kitab. Pada akhirnya, hal inilah yang membuat
perpecahan antar pastor, yang kemudian memecah kaum Nasrani menjadi dua
kelompok besar yaitu Kristen Ortodoks dan Kristen Protestan. Kristen Ortodoks
ini adalah umat Kristen yang ingin berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran yang
telah dihimpunnya selama bertahun-tahun, sedangkan Kristen Protestan adalah
kaum yang tidak menyetujui ajaran-ajaran tersebut karena telah diubah oleh
pastor-pastor yang tidak bertanggungjawab, sehingga memisahkan diri menjadi
saingannya.
Karena banyaknya
ayat-ayat yang telah diubah, maka tak heran jika kaum Nasrani pada saat itu
berada dalam kekacauan. Hingga para ahli kitab, harus bersusah payah memilah
mana ayat yang benar dan mana ayat yang salah, kemudian melalui persetujuan
untuk membangun ulang kitab tersebut. Hal ini sebenarnya juga telah menimpa
umat Islam, pada masa kegelapan Islam setelah jatuhnya Khilafah. Namun saat itu
yang diubah bukanlah ayat-ayat dalam kitab Al-Qur’an, melainkan hadist-hadist
Nabi, sehingga saat ini beberapa hadist masih dalam perdebatan mengenai
ke-shahihannya, sehingga dibuatlah tingkat-tingkat terhadap hadist Nabi.
Karena itulah, akan
lebih baik jika kita memisahkan antara tafsiran dengan terjemahan yang sebenarnya.
Apa kalian tidak penasaran mengapa isi kitab Al-Qur’an tidak berubah, padahal
isi kitab-kitab samawi lainnya berubah? Mengapa Qur’an tidak berubah
sedikitpun, padahal hadist-hadist Nabi berubah?
“Sesungguhnya, Kamilah
yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kamilah yang benar-benar memeliharanya (menjaganya)..”
(Surah Al-Hijr/15:9)
(Surah Al-Hijr/15:9)
Apa kalian pernah
membaca terjemahan Surah Al-Baqarah ayat 1 – 5? Tentu, jika kita mengambil
Al-Qur’an, kebanyakan dari kita hanya melafalkan huruf Arabnya saja tetapi
tidak memperhatikan arti dari ayat Al-Qur’an tersebut. Setelah melalui beberapa
terjemahan web mengenai Surah Al-Baqarah ayat 1 – 5, saya menyimpulkan
terjemahan sebenarnya adalah sebagai berikut:
1. Alif Laam Miim
2. Itu buku (kitab)
tanpa keraguan didalamnya, bimbingan (petunjuk) bagi Al-Muttaqin.
3. Yg percaya kepada yang
tak terlihat (ghaib), dan melaksanakan shalat, dan dari apa yg telah kami
berikan kepada mereka, mereka keluarkan,
4. Dan mereka yang
percaya kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan apa yang diturunkan sebelummu,
dan (tentang) akhirat mereka yakin.
5. Mereka dalam
bimbingan (petunjuk) Tuhan, dan mereka orang2 yg berhasil (berjaya).
Kalian mungkin akan
merasa kaget saat pertama melihat terjemahan ini, karena ada beberapa kata yang
berbeda dari terjemahan (tafsiran) Al-Qur’an pada umumnya. Saya juga memiliki
alasan dan pertimbangan tersendiri terhadap terjemahan ayat-ayat ini.
Al-Qur’an, pada bagian
ini menyebutkan beberapa hal, namun yang pasti mencolok adalah ciri-ciri dari
Al-Muttaqin. Kebanyakan Al-Qur’an menerjemahkan kata Al-Muttaqin ini menjadi
beriman atau bertakwa. Memang, kedua terjemahan ini tidaklah salah. Karena kata
Al-Muttaqin sendiri memiliki makna jamak yang sangat beragam, meliputi
seseorang yang berserah diri, seseorang yang takut, seseorang yang menjaga
diri, seseorang yang beriman, bertawakal, dsb. Karena memiliki berbagai
definisi yang tak pasti, akhirnya saya memutuskan bahwa ini adalah ciri-ciri
untuk golongan tertentu, yang disebut sebagai Al-Muttaqin (tidak
diterjemahkan).
Sifat
Golongan Al-Muttaqin
1. Mendapat bimbingan dari Al-Qur’an
Golongan Al-Muttaqin mendapat petunjuk dari Al-Qur’an, sehingga mereka pasti membaca dan mempelajarinya. Ini adalah sebuah syarat untuk masuk ke dalam golongan Al-Muttaqin ini.
1. Mendapat bimbingan dari Al-Qur’an
Golongan Al-Muttaqin mendapat petunjuk dari Al-Qur’an, sehingga mereka pasti membaca dan mempelajarinya. Ini adalah sebuah syarat untuk masuk ke dalam golongan Al-Muttaqin ini.
2. Percaya kepada yang tak terlihat (ghoib)
Hal-hal yang tak terlihat, tidak terbatas pada alam jin semata. Namun, benar-benar meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat, seperti kisah-kisah lampau, ramalan masa depan, serta kejadian-kejadian yang membutuhkan waktu berjuta, mungkin bermilyaran tahun untuk terjadi lagi (contoh: komet lovejoy). Karena sebenarnya, kebanyakan kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah hal-hal yang tak dapat kita lihat, tetapi mereka tetap mempercayainya.
3. Melaksanakan shalat
Perintah shalat, adalah sebuah perintah untuk menyembah Tuhan, yang dikenalkan dalam Islam. Karena itu, golongan Al-Muttaqin ini termasuk umat Nabi Muhammad SAW.
4. Mengeluarkan apapun yang diberikan kepada mereka
Banyak Al-Qur’an yang menerjemahkan (menafsirkan) bagian ini sebagai zakat. Namun, menurut saya, hal ini tidak terbatas pada zakat saja, bahkan mungkin lebih bersifat kepada sedekah. Karena itu, salah satu ciri golongan Al-Muttaqin adalah senang berbagi dengan orang lain.
5. Percaya kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan apa yang diturunkan sebelummu
Bagian ini cukup rumit untuk dijelaskan. Disini, golongan Al-Muttaqin percaya terhadap seluruh kitab-kitab samawi yang telah diturunkan Tuhan. Ada berbagai kemungkinan untuk menjelaskan pernyataan ini. Mungkin mereka mempelajari seluruh kitab-kitab samawi. Mungkin mereka berasal dari agama lain, yang mempelajari Al-Qur’an dan mempercayai seluruh kitab-kitab (mu’allaf). Namun, satu hal yang pasti, bahwa golongan Al-Muttaqin tidak memusuhi antar kitab samawi, namun lebih kepada memaklumi dan menerima apa adanya.
6. Yakin akan akhirat
Sebenarnya, akhirat termasuk suatu hal yang tidak dapat kita lihat, yang seharusnya berada pada poin dua. Namun, Tuhan secara khusus menyebutkan hal ini. Mungkin karena, Tuhan ingin mengingatkan kita tentang adanya kehidupan lain selain kehidupan duniawi, yang telah dijelaskannya dalam kitab-kitab samawi sebelumnya. Hal ini juga, sebagai ujian dan petunjuk, bahwa Al-Qur’an ini adalah sama dengan kitab-kitab samawi yang telah diturunkan sebelumnya, karena kitab-kitab sebelumnya juga pasti dikabarkan mengenai akhirat.
7. Mendapat bimbingan dari Tuhan
Ini juga adalah hal yang cukup sulit dijelaskan. Mendapat bimbingan dari Tuhan, biasanya berupa suratan takdir, karena Tuhan menginginkannya dan karena dia menginginkan Tuhan. Biasanya terjadi melalui gerakan hati, berupa suatu dorongan yang kuat, untuk melakukan sesuatu. Karena dorongan ini berupa dorongan Tuhan, maka ia akan berada di jalan yang lurus, yang penuh dengan nikmat.
8. Mereka orang-orang yang berhasil (berjaya)
Ini adalah ciri yang paling menonjol dari golongan Al-Muttaqin, bahwa mereka adalah orang-orang yang sukses. Karena bersifat umum, maka berhasil disini meliputi keberhasilan dunia dan akhirat. Maka dari itu, golongan Al-Muttaqin ini, dalam kehidupan dunia, dapat berasal dari berbagai profesi. Dari pemilik pabrik, seorang CEO besar, ilmuwan terkenal, musisi yang melegenda. Dapat berasal dari berbagai kalangan tergantung pada berbagai bidang yang ingin ditekuni.
Hal-Hal
Lain
Terdapat beberapa hal
yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Baqarah 1 – 5 ini. Yang pertama adalah
mengenai ayat pertama, yaitu Alif Laam Miim. Tiga huruf yang dibentuk untuk
memulai Surah Al-Baqarah. Mengapa Tuhan memberikan ayat ini, sebagai pembuka
Surah Al-Baqarah? Hal ini, masih berupa misteri yang belum terpecahkan. Namun,
dalam matematika Al-Qur’an, suatu sistem telah ditemukan untuk mengurut seluruh
huruf serta ayat dalam Al-Qur’an. Sehingga, jika ada suatu huruf yang
menghilang, maka jejaknya dapat ditelusuri melalui mekanisme matematika.
Mungkin, salah satu fungsi ayat ini adalah sebagai perisai untuk menjaga isi
Al-Qur’an, jikalau ada yang ingin mengubahnya. Meski begitu, tidak dapat
dipungkiri bahwa ayat pertama ini, suatu saat nanti pasti menjadi batu ujian
dan berkah, bagi orang yang tidak mengerti dan orang yang mengerti.
Yang kedua, adalah
bahwa Kitab ini tidak ada keraguan padanya. Hal ini mencerminkan bahwa Tuhan
telah menjamin kebenaran dari isi kitab ini. Dapat ditafsirkan bahwa, apapun
yang tertulis dalam kitab ini adalah kebenaran, maka sebisa mungkin jangan
mengubah isi (terjemahan) dalam bentuk tafsiran, meskipun tafsiran kalian
benar.
Mungkin itu adalah
sedikit ilmu yang bisa saya berikan kali ini. Semoga kita semua dalam lindungan
dan berkah Tuhan.
0 comments:
Post a Comment