Disable Copying

Find it in Pantai Menganti!

A beach paradise full of unknown wonders :)

Waduk Mrica

Great photos, great pictures, great moments :)

@Banyumas

Look down there, there might be lives living in peace :)

Candi Prambanan

Indonesia's exclusive paradise for archeological adventures.

6th Sainsation

An exciting English Debate Competition in UNSOED Engineering Faculty!

Showing posts with label Life Experiences. Show all posts
Showing posts with label Life Experiences. Show all posts

Saturday, February 10, 2018

Belajar Geologi di daerah Brebes dan sekitarnya

Saya dan Kiki di singkapan lapangan
Pada dasarnya geologi adalah pelajaran mengenai bumi, terutama mengenai batuan. Hal ini sangat jelas ketika kami memulai perkuliahan, hal paling dasar dalam geologi adalah membedakan jenis batuan serta mengetahui mineral-mineral pembentuk batuan. Banyak pelajaran teori yang kami dapat dalam perkuliahan, namun tetap yang paling penting adalah kegiatan lapangan, pengolahan data, analisis lab dan pengalaman.
Jalur sungai untuk TA Mas Fikri
Kali ini, saya dan Kiki diajak ke lapangan Mas Fikri untuk melihat daerah TA-nya. Lapangan Mas Fikri berada di daerah Brebes, dari Purbalingga kurang lebih sekitar 3-4 jam perjalanan. Disini Mas Fikri mengambil TA mengenai fossil terutama foraminifera, dengan singkapan sepanjang alur sungai. Menurut hasil penelitian Mas Fikri, singkapan di daerah ini adalah singkapan yang baik, dengan umur geologi singkapannya dari Tua ke Muda berasal dari Tersier hingga Kuarter. 
Singkapan tegak lurus sehingga strike-dip tidak jelas
Disini kami belajar beberapa hal mengenai sedimen, seperti cara melihat lapisan yang lebih tua dengan melihat arah strike-dip. Selain itu, di lapangan Mas Fikri kami menemukan singkapan yang tegak lurus (sehingga strike-dip sulit dibaca). Jikalau menemukan singkapan seperti ini, maka carilah struktur sedimen yang dapat membantu menentukan arah lapisan. Struktur sedimen ini biasanya adalah “load cast” sehingga menunjukkan lapisan dibawahnya berumur lebih tua. Secara umum, batuan di sungai ini terdiri dari batulempung, batupasir dan batugamping. Kami juga membahas mengenai struktur sedikit.
Adanya ular di lapangan
Dalam kegiatan lapangan ini, kita juga harus berhati-hati  karena akan selalu ada bahaya terutama dari hewan liar. Bahkan di lapangan Mas Fikri ini dimana banyak warga sekitar yang mandi di sungai, kami masih berjumpa dengan ular. Dari cerita-cerita senior saya yang sudah pernah proyekan, kegiatan eksplorasi lebih menantang lagi, dimana terkadang harus membangun tenda dan tidur di hutan, bertemu harimau, buaya dan hewan lain di hutan. Karena itu gaji dalam kegiatan eksplorasi ini biasanya sangat besar dan dibayar per-harinya.
Saya dan Kiki di lapangan
Setelah puas melihat lapangan Mas Fikri dan mengambil foto, kamipun kembali pulang ke arah kosan. 

Monday, February 5, 2018

Belajar Geologi di daerah Bobotsari dan sekitarnya

Batulempung sisipan Batupasir
Masa awal semester dulu adalah masa-masa dimana kami mulai tertarik dengan berbagai pelajaran di perkuliahan. Dalam hal ini, saya dalam jurusan geologi, sangat tertarik dalam mempelajari batuan. Ada banyak hal yang menarik perhatian saya, dari batu mulia hingga fossil. Seakan-akan saya memang sangat cocok dengan jurusan ini. Saya juga menyukai kegiatan outdoor di lapangan.
Saat itu, saya dan Tulus pergi ke lapangan dengan Mas Erik hanya untuk sekedar belajar. Kami pergi ke daerah Bobotsari. Disana kami diajari mengenai aspek geomorfologi, yaitu bentuk permukaan bumi dan mengambil foto untuk membuat laporan. Begitu juga dengan jenis sungai. Dan yang paling penting dan paling dasar, yaitu cara membedakan batuan, minimal antara batuan beku, sedimen dan metamorf.
Geomorfologi daerah Bobotsari dan sekitarnya
Foto sungai beserta arah aliran airnya
Perjalanan kami berlanjut ke arah Tangkisan, dimana kami belajar perlahan mengenai lapangan Tugas Akhir Mas Erik. Disini, kami melihat adanya batupasir dan batulempung, keduanya berselang-seling. Kami juga belajar perlahan untuk mengidentifikasi mengenai struktur sedimen yang terlihat, seperti Ripple Mark, perlapisan ataupun laminasi. Disana juga terlihat bentuk yang seperti shear fracture, yang menandakan adanya gaya yang berkembang di daerah tersebut. Kami juga melihat adanya semacam endapan putih yang berkumpul, yang kemungkinan merupakan adanya unsur-unsur penambah yang mengendap disana. 
Adanya endapan unsur-unsur penambah?
Struktur Sedimen Ripple Mark
Shear Fracture
Setelah melihat-lihat lapangan sejenak, kami pergi bermain ke sungai di daerah Bobotsari. Saat itu musim batu sedang sangat berkembang pesat, sehingga kami pun ingin mencoba mendapatkan batu-batu yang mungkin bisa dipoles dan dijual. Namun, karena banyaknya penambang pasir dan warga lokal yang mencari batu di daerah tersebut, sangat sulit bagi kami untuk menemukan batu yang benar-benar bagus.
Foto Singkapan Batuan di Lapangan
Selesai mencari batu, kamipun segera pulang kembali ke kosan. J

  

Monday, January 22, 2018

Sekolah Tiara Bangsa – Kelulusan masa SD

Saya dan Ibu saya saat masa kelulusan
Saya dulu lulus SD pada tahun 2006 di sebuah sekolah Internasional yang bergengsi, yaitu Sekolah Tiara Bangsa. Dulu sekolah ini terletak di daerah Cibubur, namun sekarang sudah berpindah, nama (atau gelarnya mungkin) juga sudah berubah, menjadi Anglo-Chinese School – Sekolah Tiara Bangsa. Perubahan ini mungkin karena adanya kerjasama dengan pihak luar, namun prestisnya tetap sama sebagai sebuah IB World School. 
Adik saya dengan teman dan gurunya
Saya dulu biasanya bersepeda ke sekolah dengan adik saya. Saat pagi kami biasa siap duduk di kelas saat bunyi bel masuk. Kelasnya cukup nyaman dengan AC, guru-guru yang mengajar juga banyak berasal dari “bule” atau warga negara asing. Di sekolah ini, biasanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam mengajar. Materi yang disampaikan pun sesuai dengan kurikulum Internasional. Disini terdapat banyak murid-murid dari golongan menengah keatas. Bahkan artis Sherina pun bersekolah disini, namun saat itu saya masih SD sedangkan dia sudah SMA. 
Adik saya duduk di teater sekolah
Secara keseluruhan, menurut saya sistem pendidikan di sekolah swasta memang lebih terstruktur dan rapih dibandingkan sistem pendidikan di sekolah nasional. Hal ini terbuktikan di masa SMP, dimana sebagian mata pelajarannya sudah ada pendahuluannya dari masa SD dulu, terutama pelajaran geografi dan matematika. Selain itu, lingkungan sekolah yang menyenangkan dan PR yang sedikit membuat anak-anak dapat berkembang dengan baik, tidak diliputi dengan stress. Oya, fasilitasnya sangat beragam dan luas, dari kolam renang, lapangan bola, hingga teater sekolah, semuanya benar-benar komplit. 
Persiapan Kelulusan SD
Melihat kembali foto-foto ini, saya merasa sedikit kangen dengan teman-teman masa SD dulu. Sekarang masing-masing orang sudah memiliki jalannya sendiri-sendiri, bahkan sebagian sudah mulai menapaki jenjang karier mereka. Sudah 12 tahun lamanya sejak saya lulus dari sekolah ini, jika saya ada kesempatan, saya ingin mengunjungi sekolah saya ini lagi di Jakarta.  
Upacara Kelulusan SD

Sunday, January 21, 2018

Perjalanan Lampau di Madura

Ibu dan Adik-Adik saya di depan Masjid Agung
Kali ini saya akan menceritakan sedikit kisah perjalanan saya saat berkunjung ke Madura dulu. Kira-kira saya saat itu masih SD. Biasanya saat libur panjang, keluarga saya pergi jalan-jalan untuk silaturahmi, antara ke Solo atau Madura. Solo adalah tempat lahir ibu, sedangkan Madura adalah tempat lahir Bapak. Saat itu, kami menginap di tempat bibi dari Madura, rumahnya sederhana dan di depannya terdapat warung bakso. Pintu depan biasa dijegal dengan semacam keong raksasa yang kemungkinan itu adalah fosil.

Bapak biasa bersilaturahmi ke kyai-kyai serta teman-teman pondoknya. Selain itu, kami juga pergi ke “Hastina Pura”, yaitu tempat dikuburnya raja-raja beserta keturunannnya. Didalamnya, terdapat makam dengan berbagai ukuran dan juga terdapat tempat untuk ziarah bagi pengunjung yang datang. Jikalau anda melihat relief pembangunannya, ia berkesan mirip dengan relief yang ada di candi pada umumnya. Anda juga dapat melihat silsilah keturunan para raja dengan jelas disana.
Saya dan Adik-Adik saya di depan Masjid Agung Sumenep
Taman Adipura Kota Sumenep
Setelah itu, kami pergi mengunjungi Masjid Agung Sumenep. Masjid Agung ini memiliki pintu besi yang besar dan kuat. Pintu ini sendiri seperti layaknya pintu benteng, mungkin digunakan sebagai perlindungan di masa penjajahan ataupun masa reformasi dahulu. Letak Masjid Agung ini berdekatan dengan Taman Adipura Kota Sumenep. Didalamnya terdapat pohon-pohon rimbun dan lapangan yang luas, seperti alun-alun kota pada umumnya.
Di depan Museum Keraton Sumenep
Kemudian, kami pergi ke Museum Keraton Sumenep. Disana terdapat berbagai imitasi kapal disertai dengan penjelasan singkat mengenai fungsi kapal tersebut. Selain itu, terdapat juga Al-Qur’an raksasa disana, yang telah disimpan secara menurun dan diserahkan ke pihak museum. Terdapat juga barang-barang peninggalan masa peperangan, seperti meriam dan pedang. Di bagian luar terdapat beberapa peninggalan arca, mungkin dari masa kerajaan. 

Beberapa foto dibawah adalah foto-foto lawas saya pada masa itu. Masih dengan badan kurus dan rambut yang sangat berantakan. Mengenang masa-masa itu merupakan sebuah nostalgia bagi diri saya sendiri. Selamat menikmati :)
Meriam dari masa penjajahan
Koleksi senjata pedang dari Museum
Miniatur Kapal di Museum
Adanya arca di bagian luar Museum


Tuesday, November 10, 2015

Survey GOC di Desa Karangpari

Saya beserta beberapa koor
Sudah beberapa waktu berlalu, saat itu Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi UNSOED ingin mengadakan Geology Open Challenge (GOC). Setelah dipilih Ketua Pelaksana (KP), KP juga memilih koor-koor yang akan membantunya menyelenggarakan acara ini. Sebenarnya acara GOC ini dimasukkan dalam rangkaian acara Dies Natalies HMTG sekaligus, sehingga kami benar-benar harus mempersiapkan segala sesuatu dengan matang.
Bunga yang ditemukan di daerah tersebut
Bunga di sekitar rumah penduduk
Saat itu saya hanyalah seorang staff di divisi acara. Kami mulai membuat tema serta konsep acara, hingga akhirnya mengambil tema “Manifestasi Panas Bumi serta Potensinya”. Kami mengambil lapangan yang tidak biasa, berupa lapangan TA salah satu alumni kami yang berada di Desa Karangpari, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Setelah beberapa waktu, akhirnya kami berangkat menuju lokasi untuk survey lapangan sekaligus mencari titik sumber panasnya.
Bebek yang terlihat di sekitar lokasi
Perjalanan dari Purbalingga menuju Brebes kurang lebih 3 jam menggunakan motor. Ternyata Desa Karangpari adalah desa kecil dengan penduduk yang mayoritas berbahasa Sunda. Sulit sekali mencari warung makan di situ, bahkan tidak ada sinyal sama sekali (namun saat ini XL dan Simpati bisa dipakai disana atau harus pergi ke puncak untuk mencari sinyal). Saat itu cuaca agak mendung, sehingga saat kita sampai disana, kami harus meneduh sebentar karena hujan. Setelah agak cerah, kami melanjutkan survey dengan menelusuri sungai di daerah tersebut. Kami melewati berbagai singkapan menarik, perlapisan dengan struktur dan sesar di daerah tersebut.
Ravael menanti hujan #Abaikan
Bebek di sungai
Perjalanan kami lanjutkan hingga sore hari, karena kami mengejar waktu sekaligus mem-plotting tempat manifestasi panas buminya. Sore itu cuaca mulai mendung dan hujan kembali. Takut bahwa sungai akan melebar dan mungkin arusnya menjadi semakin kuat, kami mulai berpikir untuk memotong kontur (melewati bukit). Namun karena hujan, tanah menjadi licin dan kami hampir jatuh karena lereng yang terjal. Saat itu saya sendiri juga tersengat tawon, entah tawon tersebut sengaja atau tidak. Karena gagal, kami memutuskan untuk menyusuri sungai kembali dan mencari jalan keluar.
Menyusur sungai dengan Mas Beri dan Mas Idai
Menyusur sungai melewati singkapan
Setelah keluar dari sungai, kami tiba di suatu persawahan dan beruntungnya bertemu salah seorang penduduk yang menunjukkan jalan menuju desa terdekat. Saat itu sudah menjelang maghrib, kamipun bergegas untuk segera pulang. Namun, kami berada di desa tetangga, yang letaknya (jika jalan kaki) agak jauh dari desa Karangpari dimana kami menitipkan motor. Suasana saat itu ‘hectic’ sekali karena kami tidak tahu harus meminta bantuan siapa agar sampai di desa sebelah.
Terlihat adanya struktur sesar
Berfoto di sungai
Lambat laun kami memutuskan untuk berjalan mendaki bukit agar sampai di desa Karangpari. Namun kami sudah kelelahan karena sudah berjalan jauh dari tadi pagi. Kemudian, kami memutuskan agar salah satu rekan kami pergi bersama warga untuk mengambil motornya, dan menjemput bergantian. Saat duduk-duduk, sebuah mobil pickup melintas dan berhenti di dekat kami. Ternyata pickup itu juga sedang menuju desa Karangpari. Sebuah keajaiban memang, bahwa kami dapat segera pergi menuju desa tersebut dengan bantuan pickup.
Singkapan batuan yang terlihat
Setelah sampai di masjid dimana kami menitipkan sepeda motor, kami melepas lelah sejenak. Kemudian kami segera berangkat pulang menuju Purbalingga kembali. Karena sudah lelah, beberapa dari kami ada yang tertinggal. Sebagian beristirahat di warung sambil ‘ngopi’, sebagian lain terus melanjutkan perjalanan hingga sampai kosan. Waktu itu teman saya juga sampai tertidur saat berkendara, sehingga saya harus memijatnya agar dia tetap bangun. Syukurlah kami tidak kecelakaan. Saat itu kami sampai di kosan sekitar jam 11 malam. Sebagian lain sampai di kosan jam 1 atau 2 pagi. Bayangkan saja, kami survey dari jam 8 hingga jam 11 malam! Benar-benar satu hari full di lapangan. Mungkin survey ini adalah pengalaman survey paling berbahaya yang pernah saya alami, walau sangat mengasyikkan dalam prosesnya. Akhirnya, kami tidur pulas dan keesokan harinya melewati kuliah. :)
Sesar yang terlihat
Di lain waktu, kami juga mengadakan survey pleno yang diikuti oleh seluruh panitia. Saat itu kami membagi tugas berdasarkan jobdesk divisi masing-masing. Namun untuk survey ini, tidak seseram seperti saat survey pertama. Sekian cerita dari saya, foto-foto dibawah ini adalah hasil dari survey kami. Selamat menikmati!
Panitia melakukan survey
Calon Endapan Sungai
Seorang warga yang sholat di atas batu


Sunday, November 8, 2015

Documentation of Geology Open Challenge 2015

Peserta berfoto di depan kampus
Geology Open Challenge (GOC) adalah sebuah lomba pemetaan yang diselenggarakan oleh HMTG “dr.bumi” UNSOED. Tema tahun ini adalah “Manifestasi Panas Bumi beserta Potensinya”, bertempat di desa Karangpari dan Baturraden, yang telah selesai dilaksanakan pada tanggal 10 September 2015 kemarin. Peserta yang mengikuti lomba pemetaan ini berasal dari geologi UNDIP, ITB, ITAITS, AKPRIND, UGM, UNSOED dan UNPAD. Pada acara ini kami juga saling mengenal sesama mahasiswa geologi dari universitas lain.
Pencarian data lapangan
Peserta mengambil data lapangan
Tak lupa kami ucapkan terimakasih untuk semua sponsor, dosen serta alumni yang telah banyak membantu kami dalam membuat acara ini. Gambaran umum GOC ini, berupa pengambilan data selama 3 hari di lapangan, 1 hari pengolahan data, 1 hari presentasi dan 1 hari refreshing, talkshow dan closing. Pada acara ini seluruh akomodasi, transportasi dan makan peserta ditanggung oleh panitia.
Berfoto di masjid setelah pengambilan data lapangan
Tahap Pengolahan Data
Dalam acara ini, saya sendiri di plot sebagai Liason Officer (LO) dari tim ITB. Hal ini cukup menantang karena saya harus bisa menjawab berbagai pertanyaan dari peserta serta memenuhi keperluan peserta selama acara berlangsung. Sebagai LO saya juga bertanggung jawab untuk menjaga kondisi peserta agar tetap sehat, adanya masukan atau keluhan untuk panitia yang nantinya akan dibahas saat evaluasi.
Tahap Presentasi
Dengan menjadi LO, saya merasa seakan saya mendapatkan teman baru. Disini saya bertukar cerita dengan mereka, bagaimana sistem belajar di ITB, organisasinya, kehidupan anak kos disana serta berbagai hal lainnya. Hal ini memungkinkan saya untuk membuka ‘link’ menuju ITB.
Tahap Refreshing
Mungkin kesulitan LO selama acara adalah cara menjawab pertanyaan peserta, terutama yang sangat berhubungan dengan masalah teknis. Karena itu, sebagai LO kita harus menguasai seluruh agenda acara. Selain itu, LO juga harus terus memantau peserta jikalau mereka ada kesulitan ataupun ada keluhan untuk panitia, agar ke depannya kesalahan yang sama tidak akan terulang.  
Menanyakan keadaan peserta
Saya sebagai LO ITB

Friday, August 14, 2015

Fieldtrip Petrologi

Study of Minerals in Stones
Oleh: Maulana Malik Fikri
Semacam struktur dalam batuan beku
Petrologi adalah ilmu yang mempelajari mineral-mineral yang ada dalam suatu batuan. Ilmu ini cukup penting karena digunakan untuk mengidentifikasi batuan. Batuan memiliki kandungan mineral yang berbeda-beda dan tergantung jumlah yang terdapat di dalamnya. Fieldtrip kali ini akan cukup melelahkan, karena lokasi stopsitenya yang cukup jauh dari Purbalingga. Kali ini, kami akan berangkat ke daerah Jogja – Klaten.
Suatu singkapan dengan struktur mengulit bawang
Seingat saya saat itu kita berangkat dari jam 11:30 malam. Perjalanan panjang itu tidak terasa karena kebanyakan dari kami tertidur di bis. Kami tiba di Klaten dan menuju Bayat. Disana, kami mendapatkan empat stopsite. Kami harus mengambil sampel dan mengidentifikasi jenis batuan apa itu dari mineral yang terlihat. Hal ini agak sulit dilakukan dalam beberapa stopsite karena singkapan yang lapuk. Disini kami juga ditunjukkan suatu batuan yang memiliki kandungan fossil. Setelah seharian belajar di lapangan, kami menuju ke penginapan kami di Jogja. Malam itu ada kebanyakan orang jalan-jalan menyusuri Jogja. Sebagian lagi ada yang membeli oleh-oleh.
Batuan Sedimen, Sungai dan Batuan Beku
Keesokan harinya, kami mulai mencari stopsite di Jogja, dimana kami diperlihatkan singkapan batuan sedimen dan singkapan batuan beku yang dibatasi oleh sebuah sungai kecil. Disitu kami mengambil sampel dan mulai mendeskripsikan singkapan yang terlihat. Kami juga melihat singkapan batuan beku dan dosen memperlihatkan kepada kami mengenai struktur radial. Kemudian kami menuju singkapan lain, yang katanya adalah salah satu singkapan tertua di Indonesia.
Mendeskripsikan singkapan di lapangan
Mengambil sampel batuan dengan palu geologi
Struktur radial pada batuan beku
Saat itu hari sudah menjelang sore. Setelah berhenti sejenak di Ambarketawang, kami semua kembali menuju Purbalingga. Sepanjang perjalanan saya secara iseng mengambil foto anak-anak yang sedang tidur di bis, hehehe… Foto-foto itu bisa anda lihat di bawah :@:@:@
Arya
Yohannes
Wildan
Joe