Disable Copying

Find it in Pantai Menganti!

A beach paradise full of unknown wonders :)

Waduk Mrica

Great photos, great pictures, great moments :)

@Banyumas

Look down there, there might be lives living in peace :)

Candi Prambanan

Indonesia's exclusive paradise for archeological adventures.

6th Sainsation

An exciting English Debate Competition in UNSOED Engineering Faculty!

Showing posts with label Religion Articles. Show all posts
Showing posts with label Religion Articles. Show all posts

Thursday, February 12, 2015

Delapan Sifat Al-Muttaqin

Wisdoms of the Eight
Oleh: Maulana M. Fikri
Sumber Gambar: Google
Tahukah kalian bahwa rata-rata terjemahan Al-Qur’an yang kita pegang saat ini di Indonesia (dan juga beberapa Al-Qur’an Internasional), bukanlah terjemahan Al-Qur’an yang sebenarnya, namun merupakan tafsiran yang disetujui oleh berbagai ulama’ besar? Tafsiran yang diberikan saat ini, adalah untuk menyatukan pemahaman tentang ayat-ayat Al-Qur’an, serta menghindari tafsiran-tafsiran yang menyesatkan umat. Harus saya akui bahwa, ulama-ulama itu memiliki tujuan yang baik, terutama untuk menyatukan umat Islam yang terdiri atas berbagai aliran karena masing-masing aliran memiliki pemahamannya tersendiri terhadap agama Islam. Namun, saya juga tidak menyalahkan jika karena membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kita dapat memiliki sudut pandang yang berbeda dari orang lain. Seperti yang saya bilang pada artikel sebelumnya, bahwa seorang individu menyimpulkan ataupun menyikapi suatu kejadian berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka himpun. Karena itu, wajar saja jika kita memiliki opini yang berbeda-beda.

Mungkin memang sudah menjadi suratan takdir, dimana kita terpisah-pisah menjadi berbagai aliran, Bahkan agama-agama samawi sebelumnya juga memiliki nasib yang sama, terpecah-belah karena terdapat pemahaman yang berbeda terhadap agama mereka. Contohnya adalah, agama Hindu yang semula adalah satu kesatuan, lambat laun terpecah belah, hingga muncul agama Buddha sebagai pesaingnya. Nasib yang sama dialami oleh kaum Nasrani, dimana pemahaman mereka terbelah menjadi Kristen Ortodoks dan Kristen Protestan. Islam juga tak luput dari takdir ini, dimana saat ini terdiri dari berbagai aliran yang berbeda, dari NU, Muhammadiyah, Syiah serta aliran lainnya.

Memiliki dan mempelajari suatu kitab samawi adalah berkah tersendiri; namun kitab-kitab ini juga merupakan ujian bagi kita. Terpecah-belahnya umat-umat beragama, memang tak dapat dihindari, sehingga hal ini memang tidak dapat disalahkan ataupun dibebankan pada kaum tertentu. Karena dari ayat-ayat kitab samawi-lah, kita terpisah-pisah. Ayat-ayat dalam kitab samawi, terdiri dari dua jenis, yaitu ayat yang jelas dan ayat yang tidak jelas. Sikap kita terhadap ayat-ayat inilah, yang nantinya akan memilah kita menjadi golongan-golongan, dari orang yang beriman, bertakwa, munafik, bukan orang beriman serta kafir.

Melihat bahwa tafsiran Al-Qur’an, yang telah disetujui oleh ulama-ulama besar Indonesia tidak menyelesaikan masalah akan perpecahan umat Islam ini, maka saya tidak akan melarang jika diantara kita memilih aliran tersendiri, ataupun tidak memilih suatu aliran namun tetap mempelajari Al-Qur’an itu sendiri. Pada akhirnya, apapun yang kita pilih, saya harap kita dapat mempertanggungjawabkannya nanti di Hari Penghakiman.

Seandainya ada suatu hal yang saya inginkan, adalah terjemahan Al-Qur’an dikembalikan pada terjemahan sesungguhnya, bukan tafsiran atas berbagai ulama. Meskipun tafsiran itu bersifat baik, untuk meluruskan pemahaman tentang Al-Qur’an, namun tafsiran tersebut tetap bukanlah terjemahan Al-Qur’an yang sesungguhnya, bahkan dalam keadaan ekstrim, dapat mengubah ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri (dalam Bahasa Indonesia). Beruntung bahwa Al-Qur’an diberikan dalam bahasa Arab, yang entah bagaimana isi Al-Qur’an dalam bahasa Arab ini tidak berubah setelah 1400 tahun lamanya.

Semoga umat Islam terhindar atas musibah yang menimpa kaum Nasrani pada dahulu kala. Saat-saat yang dikenang sebagai “the dark age of Europe” itu berada dalam perpecahan besar. Hal ini karena, adanya pastor-pastor tertentu yang menafsir (mengubah) beberapa ayat Al-Kitab sebagai suatu bentuk pembenaran atas perbuatan mereka. Ayat-ayat yang diubah, meliputi jumlah kekayaan yang diberikan pada gereja, berbagai peraturan yang dibuat untuk melindungi diri dari hukum, serta berbagai hal lainnya. Perpecahan itu menjadi semakin besar hingga terdapat berbagai aliran yang menyatakan kebenarannya tentang Al-Kitab. Pada akhirnya, hal inilah yang membuat perpecahan antar pastor, yang kemudian memecah kaum Nasrani menjadi dua kelompok besar yaitu Kristen Ortodoks dan Kristen Protestan. Kristen Ortodoks ini adalah umat Kristen yang ingin berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran yang telah dihimpunnya selama bertahun-tahun, sedangkan Kristen Protestan adalah kaum yang tidak menyetujui ajaran-ajaran tersebut karena telah diubah oleh pastor-pastor yang tidak bertanggungjawab, sehingga memisahkan diri menjadi saingannya.

Karena banyaknya ayat-ayat yang telah diubah, maka tak heran jika kaum Nasrani pada saat itu berada dalam kekacauan. Hingga para ahli kitab, harus bersusah payah memilah mana ayat yang benar dan mana ayat yang salah, kemudian melalui persetujuan untuk membangun ulang kitab tersebut. Hal ini sebenarnya juga telah menimpa umat Islam, pada masa kegelapan Islam setelah jatuhnya Khilafah. Namun saat itu yang diubah bukanlah ayat-ayat dalam kitab Al-Qur’an, melainkan hadist-hadist Nabi, sehingga saat ini beberapa hadist masih dalam perdebatan mengenai ke-shahihannya, sehingga dibuatlah tingkat-tingkat terhadap hadist Nabi.

Karena itulah, akan lebih baik jika kita memisahkan antara tafsiran dengan terjemahan yang sebenarnya. Apa kalian tidak penasaran mengapa isi kitab Al-Qur’an tidak berubah, padahal isi kitab-kitab samawi lainnya berubah? Mengapa Qur’an tidak berubah sedikitpun, padahal hadist-hadist Nabi berubah?

“Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kamilah yang benar-benar memeliharanya (menjaganya)..”
(Surah Al-Hijr/15:9)

Apa kalian pernah membaca terjemahan Surah Al-Baqarah ayat 1 – 5? Tentu, jika kita mengambil Al-Qur’an, kebanyakan dari kita hanya melafalkan huruf Arabnya saja tetapi tidak memperhatikan arti dari ayat Al-Qur’an tersebut. Setelah melalui beberapa terjemahan web mengenai Surah Al-Baqarah ayat 1 – 5, saya menyimpulkan terjemahan sebenarnya adalah sebagai berikut:
1. Alif Laam Miim
2. Itu buku (kitab) tanpa keraguan didalamnya, bimbingan (petunjuk) bagi Al-Muttaqin.
3. Yg percaya kepada yang tak terlihat (ghaib), dan melaksanakan shalat, dan dari apa yg telah kami berikan kepada mereka, mereka keluarkan,
4. Dan mereka yang percaya kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan apa yang diturunkan sebelummu, dan (tentang) akhirat mereka yakin.
5. Mereka dalam bimbingan (petunjuk) Tuhan, dan mereka orang2 yg berhasil (berjaya).

Kalian mungkin akan merasa kaget saat pertama melihat terjemahan ini, karena ada beberapa kata yang berbeda dari terjemahan (tafsiran) Al-Qur’an pada umumnya. Saya juga memiliki alasan dan pertimbangan tersendiri terhadap terjemahan ayat-ayat ini.

Al-Qur’an, pada bagian ini menyebutkan beberapa hal, namun yang pasti mencolok adalah ciri-ciri dari Al-Muttaqin. Kebanyakan Al-Qur’an menerjemahkan kata Al-Muttaqin ini menjadi beriman atau bertakwa. Memang, kedua terjemahan ini tidaklah salah. Karena kata Al-Muttaqin sendiri memiliki makna jamak yang sangat beragam, meliputi seseorang yang berserah diri, seseorang yang takut, seseorang yang menjaga diri, seseorang yang beriman, bertawakal, dsb. Karena memiliki berbagai definisi yang tak pasti, akhirnya saya memutuskan bahwa ini adalah ciri-ciri untuk golongan tertentu, yang disebut sebagai Al-Muttaqin (tidak diterjemahkan).

Sifat Golongan Al-Muttaqin
1.   Mendapat bimbingan dari Al-Qur’an
Golongan Al-Muttaqin mendapat petunjuk dari Al-Qur’an, sehingga mereka pasti membaca dan mempelajarinya. Ini adalah sebuah syarat untuk masuk ke dalam golongan Al-Muttaqin ini.

2.   Percaya kepada yang tak terlihat (ghoib)
Hal-hal yang tak terlihat, tidak terbatas pada alam jin semata. Namun, benar-benar meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat, seperti kisah-kisah lampau, ramalan masa depan, serta kejadian-kejadian yang membutuhkan waktu berjuta, mungkin bermilyaran tahun untuk terjadi lagi (contoh: komet lovejoy). Karena sebenarnya, kebanyakan kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah hal-hal yang tak dapat kita lihat, tetapi mereka tetap mempercayainya.

3.   Melaksanakan shalat
Perintah shalat, adalah sebuah perintah untuk menyembah Tuhan, yang dikenalkan dalam Islam. Karena itu, golongan Al-Muttaqin ini termasuk umat Nabi Muhammad SAW.

4.   Mengeluarkan apapun yang diberikan kepada mereka
Banyak Al-Qur’an yang menerjemahkan (menafsirkan) bagian ini sebagai zakat. Namun, menurut saya, hal ini tidak terbatas pada zakat saja, bahkan mungkin lebih bersifat kepada sedekah. Karena itu, salah satu ciri golongan Al-Muttaqin adalah senang berbagi dengan orang lain. 

5.   Percaya kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan apa yang diturunkan sebelummu
Bagian ini cukup rumit untuk dijelaskan. Disini, golongan Al-Muttaqin percaya terhadap seluruh kitab-kitab samawi yang telah diturunkan Tuhan. Ada berbagai kemungkinan untuk menjelaskan pernyataan ini. Mungkin mereka mempelajari seluruh kitab-kitab samawi. Mungkin mereka berasal dari agama lain, yang mempelajari Al-Qur’an dan mempercayai seluruh kitab-kitab (mu’allaf). Namun, satu hal yang pasti, bahwa golongan Al-Muttaqin tidak memusuhi antar kitab samawi, namun lebih kepada memaklumi dan menerima apa adanya.

6.   Yakin akan akhirat
Sebenarnya, akhirat termasuk suatu hal yang tidak dapat kita lihat, yang seharusnya berada pada poin dua. Namun, Tuhan secara khusus menyebutkan hal ini. Mungkin karena, Tuhan ingin mengingatkan kita tentang adanya kehidupan lain selain kehidupan duniawi, yang telah dijelaskannya dalam kitab-kitab samawi sebelumnya. Hal ini juga, sebagai ujian dan petunjuk, bahwa Al-Qur’an ini adalah sama dengan kitab-kitab samawi yang telah diturunkan sebelumnya, karena kitab-kitab sebelumnya juga pasti dikabarkan mengenai akhirat.

7.    Mendapat bimbingan dari Tuhan
Ini juga adalah hal yang cukup sulit dijelaskan. Mendapat bimbingan dari Tuhan, biasanya berupa suratan takdir, karena Tuhan menginginkannya dan karena dia menginginkan Tuhan. Biasanya terjadi melalui gerakan hati, berupa suatu dorongan yang kuat, untuk melakukan sesuatu. Karena dorongan ini berupa dorongan Tuhan, maka ia akan berada di jalan yang lurus, yang penuh dengan nikmat.

8.   Mereka orang-orang yang berhasil (berjaya)
Ini adalah ciri yang paling menonjol dari golongan Al-Muttaqin, bahwa mereka adalah orang-orang yang sukses. Karena bersifat umum, maka berhasil disini meliputi keberhasilan dunia dan akhirat. Maka dari itu, golongan Al-Muttaqin ini, dalam kehidupan dunia, dapat berasal dari berbagai profesi. Dari pemilik pabrik, seorang CEO besar, ilmuwan terkenal, musisi yang melegenda. Dapat berasal dari berbagai kalangan tergantung pada berbagai bidang yang ingin ditekuni.

Hal-Hal Lain
Terdapat beberapa hal yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Baqarah 1 – 5 ini. Yang pertama adalah mengenai ayat pertama, yaitu Alif Laam Miim. Tiga huruf yang dibentuk untuk memulai Surah Al-Baqarah. Mengapa Tuhan memberikan ayat ini, sebagai pembuka Surah Al-Baqarah? Hal ini, masih berupa misteri yang belum terpecahkan. Namun, dalam matematika Al-Qur’an, suatu sistem telah ditemukan untuk mengurut seluruh huruf serta ayat dalam Al-Qur’an. Sehingga, jika ada suatu huruf yang menghilang, maka jejaknya dapat ditelusuri melalui mekanisme matematika. Mungkin, salah satu fungsi ayat ini adalah sebagai perisai untuk menjaga isi Al-Qur’an, jikalau ada yang ingin mengubahnya. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa ayat pertama ini, suatu saat nanti pasti menjadi batu ujian dan berkah, bagi orang yang tidak mengerti dan orang yang mengerti.
Yang kedua, adalah bahwa Kitab ini tidak ada keraguan padanya. Hal ini mencerminkan bahwa Tuhan telah menjamin kebenaran dari isi kitab ini. Dapat ditafsirkan bahwa, apapun yang tertulis dalam kitab ini adalah kebenaran, maka sebisa mungkin jangan mengubah isi (terjemahan) dalam bentuk tafsiran, meskipun tafsiran kalian benar.

Mungkin itu adalah sedikit ilmu yang bisa saya berikan kali ini. Semoga kita semua dalam lindungan dan berkah Tuhan.

Sunday, February 8, 2015

Mengenal Agama Tuhan


Intisari dari Ajaran Tuhan
Oleh: Maulana Malik Fikri

Sumber Gambar: Google
Mungkin banyak diantara kita yang masih memiliki kontroversi mengenai Tuhan. Entah dari kenyataannya, eksistensinya maupun keberadaannya. Tak dapat dimungkiri bahwa mungkin diantara kita masih banyak yang ragu. Banyak yang lalai, banyak yang tidak mengetahui, banyak yang tidak percaya. Menurut saya itu wajar. Karena sebenarnya hanya sedikit yang diberi kesempatan untuk bertemu Tuhan dalam kehidupan dunia, misalnya Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS. Saya sendiri dapat memahami hal itu. Karena banyak hal di dunia ini yang tidak kita mengerti, banyak ilmu yang tidak kita capai, sejarah yang telah lama mati dimakan usia, serta masa depan yang tidak dapat diketahui dengan pasti. Karena manusia sekarang terdiri dari berbagai macam generasi, ras, budaya, kepercayaan dan bahasa. Dengan berbagai perbedaan ini, saya mencoba mengerti mengapa manusia memiliki  berbagai macam definisi majemuk mengenai berbagai hal tentang dunia ini.

Mungkin sejauh ini, kita semua mengeluarkan pendapat, entah itu opini maupun fakta, berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Itulah kenyataannya. Namun yang membuat kita berselisih, mungkin adalah perbedaan diantara kita. Hanya karena dia tidak sependapat dengan kita, dia menjadi seorang terdakwa yang bersalah. Karena dia tidak se-bangsa dengan kita, dia menjadi dikucilkan. Karena dia berbeda dari yang lain, dia menjadi bahan tertawaan. Itulah kenyataan hidup. Mungkin kita pernah merasakannya. Namun penyesalan takkan mengubah apapun. Saya tidak bisa menjaminnya, tapi saya yakin kita dapat mengubah kehidupan kita saat ini dengan mengubah sikap dan pola pikir kita.

Mungkin orang-orang terdahulu, juga tak jauh berbeda dengan keadaan kita saat ini. Seperti prinsip stratigrafi geologi, bahwa “the present is the key to the past”. Sekarang saya ajak kita semua berpikir, seandainya diantara kita ada yang mengaku seorang utusan Tuhan, apakah kita akan mempercayainya begitu saja? Terutama ketika sang utusan ini ingin mengubah tradisi, sikap, serta pola pikir yang telah dianut selama bertahun-tahun lamanya?

Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingin saudara-saudara merenungkan sedikit cuplikan diatas. Berikanlah pemahaman kalian mengenai hal diatas, bisa dalam hati tapi akan lebih baik jika ditulis di kertas.
-------------------------------------------------------------------------------------
Apa yang akan saya utarakan disini, mungkin akan kalian anggap salah. Sesat. Mungkin kalian akan berhenti membaca sebelum menyelesaikannya karena menganggap ini hanyalah omong kosong belaka. Karena mungkin kita memiliki pemahaman yang berbeda, sudah sewajarnya jika ada yang “memusuhi” tulisan ini. Meski mungkin, pada akhirnya kita memilih jalan yang berbeda, saya tidak masalah asal kita dapat mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti. Karena sebagian tulisan ini, adalah pengetahuan yang telah saya kumpulkan setelah banyak membaca, merenungkan, dan menyimpulkan berbagai kejadian mengenai kitab samawi.
 -------------------------------------------------------------------------------------
Al-Qur’an
Kitab Al-Qur’an, yang saat ini menjadi kitab pedoman bagi umat Muslim, adalah kitab samawi terbaru, diantara kitab-kitab samawi lainnya. Berdasarkan isinya, kitab ini memiliki berbagai nama dan gelar yang diberikan oleh para pakar Muslim, di masa kini maupun lampau. Mungkin memang masih membutuhkan waktu untuk mengupas semua kebenaran kitab ini, tapi kami yakin pasti tiba saatnya dimana semuanya terungkap.

Berdasarkan ilmu pengetahuan, tak sedikit ilmuwan, sejarawan, maupun teolog yang membuktikan sendiri ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mereka berbalik menekuni kitab ini. Tentunya, hal ini juga berlaku bagi kitab-kitab samawi lain, sehingga menimbulkan berbagai perdebatan sengit antar agama. Terlepas dari berbagai sejarah terkumpulnya ayat-ayat Al-Qur’an, saat ini mari kita bahas pokok dari Al-Qur’an tersebut.

Ummul Qur’an
Pembukaan Al-Qur’an, dimulai dengan adanya Surah Al-Fatihah, yang dikatakan Ali’ sebagai inti dari Al-Qur’an itu sendiri ketika melamar anak Rasul. Hal ini membuktikan pengetahuan Ali’, bahwa ada perbedaan yang besar antara mereka yang mengerti seluruh kitab dengan mereka yang hanya menghapal seluruh ayat Al-Qur’an tanpa pemahaman yang pasti.

Yang tidak diceritakan adalah, kenapa Surah Al-Fatihah ini menjadi inti dari Al-Qur’an? Pertanyaan ini, memiliki berbagai macam jawaban, tergantung dari pemahaman seorang individu. Dan selama dalam perjalanan saya, belum ada jawaban yang memuaskan, hingga akhirnya saya menyimpulkannya bahwa “Al-Fatihah adalah inti dari Al-Qur’an, maka ia adalah inti dari agama Islam juga”.

Mungkin tidak banyak yang setuju dengan kesimpulan saya ini. Namun, saya mengambil kesimpulan ini, bukan tanpa pertimbangan. Bukankah Islam sendiri didasarkan pada Al-Qur’an? Itulah yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad, dan jikalau ada peraturan yang belum ditetapkan dalam Al-Qur’an, barulah kita merujuk pada As-Sunnah. Bukankah itu kenyataannya? Karena itu, jikalau inti dari Qur’an itu adalah Surah Al-Fatihah, maka menurut saya tidaklah salah jika menyimpulkan bahwa inti dari Islam adalah Surah Al-Fatihah itu sendiri.

Pengenalan Kepada Tuhan
Membahas ayat-ayat yang terdapat dalam Surah Al-Fatihah, kali ini Tuhan memperkenalkan dirinya dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih,Yang Maha Penyayang, Yang Menguasai Seluruh Alam dan Yang Menguasai Hari Pembalasan. Berbeda dengan yang lain, berdasarkan ayat-ayat dalam Surah Al-Fatihah, saya mengklasifikasikan lima nama-nama Tuhan, yang mungkin dikenal dalam berbagai kitab (kemungkinan besar dalam bahasa yang berbeda).

Mungkin kita akan bertanya, dari berbagai nama-nama Tuhan di seluruh catatan sastra, dari dulu hingga sekarang, mengapa hanya lima nama saja yang ia sebutkan dalam pembukaan kitab Al-Qur’an? Kenapa bukan Yang Maha Pengampun, Yang Maha Cerdas, ataupun nama-nama lainnya?
Percaya atau tidak, ini adalah salah satu batu ujian bagi kita. Menurut saya, kemungkinan besar kenapa Tuhan memilih lima nama tersebut adalah:

1.     
Karena nama tersebut sering ditulis dalam kitab sastra, sehingga siapapun yang membacanya akan langsung mengerti bahwa maknanya adalah Tuhan, walaupun berbeda dari segi bahasa. 
2.   Karena dari dulu hingga sekarang Tuhan mengabarkan bahwa dialah pemilik Hari Kiamat.
3.   Karena Tuhan sudah sejak lama memperkenalkan dirinya sebagai pengatur seluruh alam semesta.
4.    Karena Tuhan memilih Mekkah (kafilah Arab, yang saat itu terdiri atas berbagai suku) sebagai tempat diturunkannya wahyu.

Saya rasa kita semua setuju bahwa nama-nama seperti Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pengasih, Yang Menguasai Hari Kiamat dan Yang Menguasai Seluruh Alam merujuk kepada Tuhan itu sendiri. Namun apakah nama Allah merujuk pada Tuhan? Ini mungkin adalah pertanyaan yang sulit dijawab.
Perlu kami akui bahwa, berdasarkan sedikit penelitian yang telah kami himpun, nama-nama Tuhan sangat berbeda berdasarkan budaya dan bahasa masing-masing kaum. Misalnya, dalam peradaban Mesir Kuno nama Tuhan dikenal sebagai Aton, dalam bahasa Ibrani (Injil) nama Tuhan dikenal dengan nama Elohim, dalam Hindu nama Tuhan dikenal sebagai Hyang, kemudian dalam Islam nama Tuhan dikenal sebagai Allah.

Mengapa nama-nama Tuhan sangat berbeda, sedemikian rupa? Bukan hanya karena faktor perbedaan zaman, budaya dan bahasa yang mempengaruhi ini, namun hal ini terjadi karena adanya unsur kesengajaan yang dibuat Tuhan sendiri, kemungkinan besar untuk menguji seluruh umat manusia.

 “Dan jika Allah menghendaki, maka Ia jadikan kamu sebagai satu kaum, namun Allah hendak menguji kamu..” (Ayat Qur’an)

“Orang yang dapat menyatukan seluruh agama adalah orang yang hebat dan luar biasa”
(Kitab Jayabaya)

3 Jalan Dunia
Dalam Surah Al-Fatihah ini juga, diberikan tiga jalan besar yang akan kita lalui, yaitu jalan yang lurus, jalan yang dimurkai dan jalan yang sesat (ayat 7). Kita semua pasti mengetahui tiga jalan ini. Kita semua juga pasti setuju bahwa “jalan yang lurus” inilah yang harus ditempuh, sebuah jalan menuju kebenaran, sebuah jalan menuju Tuhan.

Meski tidak ada deskripsi mengenai jalan yang dimurkai dan jalan yang sesat, namun Tuhan mendeskripsikan dengan jelas tentang makna jalan yang lurus. Secara jelas Tuhan menuturkan, jalan yang lurus adalah jalan yang diberikan nikmat didalamnya. Mengenai nikmat apa yang akan kita dapat nantinya, tidak dituturkan lagi, tapi saya yakin kita setuju bahwa nikmat tersebut adalah hal baik bagi seluruh orang yang mengikuti jalan ini. Dan bagaimana kita mendapatkan jalan yang lurus? Tuhan secara langsung juga telah memberikan jawabannya, agar kita meminta untuk ditunjukkan jalan yang lurus tersebut. (Ayat 6)

3 Perintah Utama + 1 Perintah
Dalam inti Al-Qur’an ini, sebenarnya kita diberikan perintah pertama kita. Dan perintah pertama itu bukanlah Sholat, maupun Puasa, ataupun berangkat Haji. Perintah ini terdapat dalam ayat lima Surah Al-Baqarah, yaitu hanya menyembah Allah (Tuhan) dan hanya meminta pertolongan pada Allah (Tuhan). Itulah dua perintah utama, sebelum kalian melaksanakan ibadah lainnya. Jika dengan melaksanakan dua perintah ini saja kalian tidak mampu, maka apakah kalian merasa mampu melakukan ibadah lainnya?

Kata “menyembah” disini memiliki berbagai definisi. Apapun definisi itu, asal mengacu pada penyerahan, pengabdian serta pengakuan diri pada Tuhan, tidak ada masalah bagi saya. Dalam hal ini, cara “menyembah” Tuhan hampir dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan, bukan hanya dalam sholat. Perintah pertama ini, adalah ujian pertama kita. Kenapa? Karena kita cenderung memusatkan perhatian kita pada hal-hal yang kita lihat, dengar dan rasa. Itulah kenyataannya. Sedangkan hal-hal yang tidak terlihat, tidak terdengar, dan tidak terasa,  seperti Tuhan, sangat mudah lepas dari ingatan kita.

Yang kedua adalah, hanya meminta pertolongan pada Allah. Secara umum kasusnya kurang lebih sama seperti perintah pertama, namun agak lebih berat. Kita cenderung meminta pertolongan orang lain, karena secara harfiah manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri (menurut definisi sosiolog) dan mungkin karena itu adalah sifat alami manusia. Kita terbiasa meminta pada sesama manusia, ataupun kepada makhluk lain, karena kita merasa bahwa mereka mampu membantu kita menghadapi permasalahan hidup yang sedang kita alami. Bagaimana mungkin kita dapat meminta pada sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya (Tuhan)?     

Yang ketiga adalah meminta petunjuk akan jalan yang lurus. Kita biasanya meminta dalam perwujudan doa. Maka, doa yang paling pertama saya anjurkan adalah meminta petunjuk akan jalan yang lurus kepada Tuhan, karena ini termasuk perintah yang diberikan pada kita. Semoga pada akhirnya kita diberikan nikmatnya jalan yang lurus, yang disebut dalam Surah Al-Fatihah ini.
Satu perintah lain, yang ibaratnya seperti sunnah mu’akkad, adalah memuji Tuhan.


Mungkin cukup sekian ilmu yang bisa saya bagi kali ini. Semoga kita semua berada dalam lindungan Tuhan. Dan apapun jalan yang kalian tempuh, semoga tetap menuju kepada jalan yang lurus. See you in the next article!