Disable Copying

Find it in Pantai Menganti!

A beach paradise full of unknown wonders :)

Waduk Mrica

Great photos, great pictures, great moments :)

@Banyumas

Look down there, there might be lives living in peace :)

Candi Prambanan

Indonesia's exclusive paradise for archeological adventures.

6th Sainsation

An exciting English Debate Competition in UNSOED Engineering Faculty!

Saturday, December 14, 2019

Kisah Nabi Adam berdasarkan Al-Qur’an 4


1.      5. Kisah Nabi Adam di Surga
“Dan Kami pastinya telah menciptakanmu dan memberimu bentuk. Kemudian Kami mengatakan kepada para malaikat “Bersujudlah kepada Adam”; maka mereka bersujud, kecuali untuk Iblis. Dia tidak termasuk dari mereka yang bersujud.

(Allah) mengatakan “Apa yang  menghalangimu dari bersujud ketika Aku memerintahkan kepadamu?” (Iblis) menjawab “Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api dan menciptakan dia dari tanah liat.”

(Allah) mengatakan “Turunlah dari Surga, karena itu tidaklah untukmu untuk menjadi sombong. Maka keluarlah; sungguh kamu termasuk dari yang direndahkan.”

(Iblis) mengatakan “Tangguhkanlah hukumanku hingga Hari dimana mereka dibangkitkan.”

(Allah) mengatakan “Sungguh, kamu termasuk dari mereka yang diberi penangguhan hukuman.”

(Iblis) mengatakan “Karena Engkau telah menaruhku dalam kesesatan (kesalahan), Aku pasti akan duduk menunggu untuk mereka dalam jalan lurus-Mu.

Kemudian Aku akan datang kepada mereka dihadapan mereka dan dari belakang mereka dan dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka bersyukur.”

(Allah) mengatakan “Keluarlah dari Surga, tercela dan terbuang (terusir). Siapapun yang mengikutimu diantara mereka – Aku pasti akan mengisi Neraka denganmu, semuanya.”

Dan “Wahai Adam, tinggallah, kamu dan istrimu, dalam Surga dan makan dari manapun yang kamu inginkan tetapi janganlah mendekati pohon ini, atau kamu akan menjadi yang berbuat salah.”

Tetapi Syaitan berbisik kepada mereka untuk membuat jelas kepada mereka yang tersembunyi dari mereka dari bagian-bagian pribadi mereka. Dia mengatakan “Tuhanmu tidak melarangmu pohon ini kecuali agar kamu menjadi malaikat atau menjadi dari yang abadi.”

Dan dia bersumpah kepada mereka “Sungguh, aku untukmu dari mereka yang memberi saran yang tulus (jujur).”

Maka dia membuat mereka jatuh, melalui penipuan (tipu daya). Dan ketika mereka mencicipi dari pohon itu, bagian-bagian pribadi mereka menjadi jelas kepada mereka, dan mereka mulai mengikat dengan kencang diseluruh diri mereka dari daun-daun Surga. Dan Tuhan mereka memanggil mereka “Bukankah Aku telah melarangmu dari pohon itu dan memberitahumu bahwa Syaitan itu, untukmu, seorang musuh yang jelas?”

Mereka mengatakan “Tuhan kami, kami telah menyalahi (menzalimi) diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak memaafkan kami dan memberi ampunan kepada kami, kami pasti akan termasuk dari mereka yang kalah.”

(Allah) mengatakan “Turunlah, menjadi musuh satu sama lainnya. Dan untukmu di bumi adalah sebuah tempat tinggal dan kesenangan untuk suatu waktu.”

Dia mengatakan “Disanalah kamu akan hidup dan disanalah kamu akan mati dan darinyalah kamu akan dibangkitkan.”
(Q.S Al-A’raaf ayat 11-25)

Kisah kali ini cukup panjang, maka kita akan membaginya dalam beberapa bagian: 
1. Alasan Iblis menolak bersujud kepada Adam
Disini terdapat pengulangan dimana malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, namun Iblis menolak. Hal ini mengokohkan fakta bahwa Iblis termasuk dari bagian para malaikat saat itu. Sehingga cerita “The Fallen Angel” (Malaikat yang Terjatuh) dalam kepercayaan umat Nasrani masih selaras dengan Al-Qur’an.

Bagian paling menarik dalam kisah ini adalah alasan Iblis dalam menolak perintah Allah dengan mengatakan: “Aku lebih baik darinya” dan dilanjutkan dengan “Engkau menciptakanku dari Api dan menciptakan dia dari Tanah.”  Jika kita telaah lagi dari ayat-ayat sebelumnya (Surah Al-Baqarah ayat 30) maka terdapat perbandingan antara malaikat dengan manusia yaitu “Apakah Engkau akan menaruh didalamnya sesuatu yang membuat kehancuran didalamnya dan menumpahkan darah, sementara kami memuji-Mu dan mensucikan-Mu?

Dari hal diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa terjadi konflik antar makhluk saat itu, dimana malaikat merasa diri mereka lebih baik (superior) dari manusia. Contoh paling konkret untuk memahami hal ini adalah dengan melihat rasisme (racism). Dahulu, orang kulit putih merasa lebih baik daripada orang kulit hitam dan ini didasari oleh sekedar perbedaan warna kulit (bahkan hingga tahap peperangan maupun perbudakan). Hal yang sama juga bisa diinterpretasikan antara malaikat dan manusia saat itu, maka Iblis menjawab melalui asal muasal penciptaan malaikat (Api) dan manusia (Tanah).

Sumber Gambar dari Google
Alasan kedua adalah bukti bahwa malaikat mengetahui sifat manusia yang membuat kehancuran dan menumpahkan darah. Dibandingkan dengan manusia, malaikat lebih baik karena mereka terus memuji dan mensucikan Tuhan. Perbandingan ini juga bisa menjadi faktor atas konflik antar manusia dan malaikat saat itu. Dari alasan diatas, maka Iblis mengatakan bahwa dia (malaikat) lebih baik daripada Adam (manusia).

2. Perjanjian antara Allah dan Iblis
Karena Iblis menolak untuk bersujud kepada Adam dan setelah dia mengemukakan alasan penolakannya, jelas terlihat kesombongan didalam dirinya. Maka dari itu Allah mengeluarkan Iblis dari Surga dan merendahkannya. Yang dimaksud “merendahkan” disini mungkin lebih dekat dengan penurunan derajat atau posisi (dalam ajaran Nasrani, Iblis sebelumnya adalah malaikat dengan kedudukan tinggi).

Bagian yang cukup menarik dalam kisah ini adalah bahwa Iblis meminta penangguhan untuk hukumannya hingga Hari Kebangkitan dan permintaan ini dikabulkan oleh Allah. Dari hal ini, maka bisa dihitung bahwa pengusiran dari Surga, penurunan kedudukannya hingga kutukan yang ada padanya bukan merupakan hukuman untuk Iblis bagi Allah.

Karena pada hari itu Iblis disalahkan, maka ia berjanji akan menunggu umat manusia dan datang kepada mereka dari depan, belakang, kanan dan kiri, kemudian akan membuat banyak dari manusia tidak bersyukur. Pernyataan Iblis tersebut malah membuatnya semakin tercela dan terusir dari Surga. Sebagai gantinya, Allah berkata bahwa siapapun yang mengikuti Iblis, maka mereka semua akan menjadi isi dari Neraka (tinggal dalam Neraka).  

3. Penipuan Adam dan Istrinya di Surga
Kita semua tahu bahwa Adam dan istrinya diperbolehkan tinggal di Surga. Mereka diberikan kebebasan untuk memilih makanan di Surga, kecuali dari satu pohon. Dengan kata lain, Adam dan istrinya saat itu hanya memiliki satu hukum (larangan) dan diberikan kebebasan yang luas.


Namun kemudian syaitan datang kepada Adam dan istrinya untuk memakan buah dari pohon terlarang itu. Siapakah syaitan tersebut? Apa yang dimaksud dengan syaitan? Dan menariknya, bagaimana syaitan bisa tahu bahwa buah terlarang tersebut akan menunjukkan kepada Adam dan istrinya bagian-bagian pribadi mereka? Buah apa yang bisa menyebabkan Adam dan istrinya untuk menunjukkan bagian-bagian pribadi mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin membutuhkan waktu dan seluruh cerita untuk bisa dijawab.

Kemudian syaitan mengatakan “Tuhanmu tidak melarang pohon ini kecuali agar kamu menjadi malaikat atau menjadi yang abadi” dan ditambah dengan sumpah “Sungguh aku untukmu adalah dari mereka yang memberi saran yang tulus (jujur).”

Jika kita menganalisa ayat ini lebih lanjut, kita bisa mengetahui identitas Syaitan dengan melihat satu fakta yaitu: Syaitan ini mengetahui akibat dari memakan buah terlarang tersebut. Dan yang mengetahui berbagai hal sebelum Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam adalah para malaikat. Maka besar kemungkinan bahwa yang dimaksud “Syaitan” disini berasal dari kalangan malaikat.

Bujukan Syaitan kepada Adam juga harus kita perhatikan dengan seksama. Mengapa Adam dan istrinya terbujuk dengan iming-iming menjadi “malaikat” atau menjadi yang “abadi”? Jika kita menarik garis lurus dengan konflik rasisme antara malaikat dengan manusia sebelumnya, maka sebagai kaum minoritas saat itu, apa yang akan anda lakukan jika mendapat tawaran yang sama?

Disini saya memiliki dua spekulasi, yang pertama menurut saya jawaban yang paling logis mengapa Adam dan istrinya menerima tawaran tersebut adalah: bahwa mereka ingin diterima. Mereka ingin diterima sebagai sesama makhluk Tuhan dan menghilangkan konflik rasisme antar malaikat dan manusia dengan bergabung menjadi malaikat. Yang kedua: bahwa mereka ingin kekuatan lebih. Bagian bujukan Syaitan yang merujuk “menjadi yang abadi” sangat mungkin adalah sesuatu yang setara atau lebih dari malaikat, bahkan hingga tingkat menjadi petinggi malaikat atau Tuhan.

Sehingga akhirnya, ketika Adam dan istrinya memakan buah dari pohon itu, menjadi jelaslah bagian-bagian pribadi mereka, kemudian mereka mulai mengikat dengan kencang dari daun-daun Surga. Dan pada titik inilah Syaitan membuat mereka jatuh melalui tipu daya, padahal sebelumnya dia mengatakan bahwa dia adalah yang memberi saran yang tulus (jujur).

Buah apa yang bisa membuat Adam dan istrinya menjadi jelas bagian pribadi mereka sehingga mereka harus menutupi diri dengan mengikat kencang dari daun-daun Surga? Ini spekulasi saya, namun kemungkinan besar buah itu adalah buah yang memabukkan. Kita semua mengetahui bagaimana efek orang mabuk di dunia ini. Efeknya cukup beragam, namun paling banyak adalah kasus kekerasan (marah, pukul, dsb) dan seksual (pemerkosaan, pelecehan, dsb) dalam keadaan setengah sadar maupun tidak sadar. Sedangkan dalam kasus Adam dan istrinya, kemungkinan menyangkut dua kasus tersebut, karena mereka kehilangan atau kerusakan baju dari yang sebelumnya mereka kenakan (sehingga mereka harus mengambil daun-daun Surga untuk menutupi diri mereka). Namun kemungkinan lain juga, bahwa Syaitan telah mengambil dan menyembunyikan sisa dari baju mereka saat mereka tidak sadar.  

Catatan:
Jika kita cermati, maka sifat Syaitan disini adalah penipu. Ia membuat suatu kebohongan tentang sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau ia memanipulasi suatu informasi sehingga informasi tersebut menjadi salah. Maka, jika seseorang sering berbohong, berhati-hatilah karena berbohong dan menipu adalah sifat syaitan. Selain itu, Syaitan akan langsung hilang/pergi setelah mereka berhasil menipu, sehingga saat kita ada masalah, maka merekalah orang-orang yang paling pertama akan menghilang (kabur/lari). Dan disini kita juga belajar bahwa Syaitan tidak hanya berasal dari golongan manusia saja, namun juga bisa berasal dari golongan malaikat.

4. Perintah Turun dari Surga oleh Allah pada Adam dan Istrinya.
Setelah Adam dan istrinya mengikat tubuh mereka dengan dedaunan surga, mereka dipanggil oleh Allah. Telah menjadi jelas kondisi mereka dihadapan Allah dan Allah mengetahui bahwa mereka telah melanggar satu-satunya larangan yang telah ditetapkan-Nya. Maka Allah berkata kepada mereka “Bukankah Aku telah melarangmu dari pohon itu dan memberitahu kepadamu bahwa Syaitan, bagimu, adalah musuh yang nyata?”

Kemudian Adam dan istrinya menjawab “Tuhan kami, kami telah menyalahi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak memaafkan kami dan memberi ampunan kepada kami, maka kami akan termasuk dari mereka yang kalah.” Di titik inilah Adam dan istrinya meminta ampunan dari Tuhan.

Setelah Adam dan istrinya meminta ampunan dari Tuhan, mereka diperintahkan untuk turun dari Surga menuju Bumi. Perintah ini juga merupakan ketetapan (peraturan) yang telah Tuhan buat untuk seluruh umat manusia. Perintah untuk turun ini dapat dibaca sbb:

(Allah) mengatakan “Turunlah, menjadi musuh satu sama lainnya. Dan untukmu di bumi adalah sebuah tempat tinggal dan kesenangan untuk suatu waktu.”

Dia mengatakan “Disanalah kamu akan hidup dan disanalah kamu akan mati dan darinyalah kamu akan dibangkitkan.”

Dari ayat diatas, maka dapat dipastikan beberapa ketetapan manusia di bumi, yaitu:
a. Manusia akan menjadi musuh satu sama lainnya di bumi
b. Terdapat tempat tinggal untuk manusia di bumi
c. Terdapat kesenangan untuk suatu waktu di bumi
d. Di bumilah manusia akan hidup
e. Di bumilah manusia akan mati
f. Di bumilah manusia akan dibangkitkan

Catatan:
Perlu diingat disini, bahwa manusia sejatinya tidak bersalah karena mereka ditipu. Namun karena mengikuti penipuan itu, mereka malah melanggar satu-satunya larangan dari Tuhan dan dari situ, mereka dihukum. Hal ini juga banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat lainnya, misalnya karena mempercayai ajaran agama yang salah atau mempercayai berita yang belum jelas kebenarannya. Jika mengikuti penipuan tersebut, maka manusia itu akan dihukum pula karena mereka telah mengikuti yang tidak benar.

Selain itu, perlu kita tekankan disini, bahwa manusia hanya akan hidup, mati dan dibangkitkan di bumi. Maka tidak mungkin manusia bisa hidup di langit, di dalam air, ataupun langsung masuk ke surga. Ketentuan ini meliputi semua manusia, termasuk para nabi. Sehingga tidak benar jikalau Nabi Isa tinggal diatas langit saat ini dan belum meninggal dan akan hadir sebelum hari kiamat nanti. Juga tidak benar berita mengenai Nabi Idris, yang pergi ke Surga karena sendal tertinggal disana, padahal beliau belum meninggal di dunia. Maka, hadist-hadist yang menyatakan seperti diatas adalah palsu, karena tidak sesuai dengan ketetapan Allah saat menurunkan manusia ke bumi.

Thursday, December 12, 2019

Kisah Nabi Adam berdasarkan Al-Qur’an 3


1.      4. Kisah Anak-Anak Adam
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah dari dua anak Adam, dalam kebenaran, ketika mereka berdua menawarkan sebuah kurban, dan diterima satu dari mereka dan ditolak dari yang satunya. Mengatakan “Aku pasti akan membunuhmu.” Mengatakan “Sungguh, Allah hanya menerima dari yang berbuat benar.

Jika kamu akan mengangkat tanganmu terhadapku untuk membunuhku – Aku tidak akan mengangkat tanganku terhadapmu untuk membunuhmu. Sungguh, Aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Sungguh aku ingin kamu untuk mendapatkan dosaku dan dosamu agar kamu akan termasuk dari teman-teman Api. Dan itulah balasan dari yang berbuat salah.”

Dan jiwanya mengijinkan kepadanya pembunuhan terhadap saudaranya, maka dia membunuhnya dan menjadi diantara yang kalah.

Kemudian Allah mengirimkan sebuah burung gagak mencari di tanah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana cara untuk menyembunyikan aib dari saudaranya. Dia mengatakan “Kesengsaraanlah untukku! Apakah aku telah gagal untuk menjadi seperti burung gagak ini dan menyembunyikan tubuh dari saudaraku?” Dan dia menjadi salah satu dari yang menyesal.”
(Q.S Al-Maidah ayat 27-31)


Kisah diatas jelas merupakan kisah anak-anak Adam, yaitu perselisihan antara Habil dan Qabil. Keduanya memberikan kurban kepada Allah dan salah satu diantara kurban mereka diterima. Kisah ini juga dikenal sebagai kisah pembunuhan pertama umat manusia. Terdapat beberapa hal menarik dalam kisah ini, yaitu:

1. Hukum (ketetapan) manusia saat itu, jika seseorang membunuh manusia lain (tanpa kebenaran), maka ia akan menanggung dosanya sendiri dan dosa orang yang dibunuhnya tersebut. Maka bisa diasumsikan bahwa sejak turunnya Adam ke Bumi, Adam telah mengajarkan hukum-hukum yang berlaku untuk manusia kepada anak-anaknya.

2. Sikap dari anak Adam yang akan membunuh saudaranya sendiri ketika dia kalah (kurbannya tidak diterima). Sebelum pembunuhan terjadi, dia mengancam dengan mengatakan “Aku pasti akan membunuhmu”, namun saudaranya mengabaikan ancaman tersebut dengan mengatakan “Aku hanya takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.” Bahkan jika saudaranya benar-benar mengangkat tangannya, maka ia tidak akan melawan. Ia juga sudah mengingatkan saudaranya mengenai hukum dari membunuh seseorang yang benar. Namun, terlepas dari berbagai nasihat saudaranya, ia tetap membunuh saudaranya tersebut. Maka ada dua poin yang harus kita catat. Pertama, saudaranya (yang membunuh) tersebut tidak takut akan Allah. Kedua, pembunuhan tersebut terjadi karena saudaranya (yang membunuh) mengijinkan jiwanya melakukannya (artinya disini dia sadar dan dia memang ingin/berniat untuk membunuh saudaranya walaupun dia memiliki pilihan untuk tidak membunuhnya). 

3. Anak Adam tersebut gagal menyembunyikan tubuh (jasad) saudaranya (yang telah dibunuh), walaupun Allah telah mengirim seekor gagak untuk memperlihatkan kepadanya. Maka kemungkinan besar jasad saudaranya tersebut akan ditemukan.

4. Anak Adam (yang membunuh saudaranya) tersebut akan masuk Neraka (menjadi teman dari Api) karena telah membunuh seseorang tanpa kebenaran.


5. Dalam awal ayat menyatakan bahwa kita harus membacakan kisah anak Adam "dalam kebenaran". Hal ini mengindikasikan adanya kisah-kisah anak Adam yang diceritakan secara tidak benar, bahkan terbalik  (antara anak Adam yang berbuat benar dan salah). Maka dari itu, kita harus selalu berhati-hati terhadap kisah anak Adam ini, terutama dari sumber-sumber lain.  

Catatan:
Burung gagak (dan banyak hewan lainnya) dikenal sebagai salah satu hewan yang suka membuat lubang, terutama untuk mencari makanan yang berupa larva kumbang, yang biasanya berada di tanah. Larva kumbang ini juga bisa berada di halaman rumah ataupun taman yang beralaskan tanah. Dalam beberapa kasus hal ini memicu ketidaksukaan dari si pemilik lahan, terutama di daerah Amerika Serikat, karena lahan mereka jadi banyak berlubang. Berikut foto burung gagak yang sedang menggali lubang di salah satu lahan seseorang.



Gambar dari Google Image
Hal ini membuktikan bahwa kisah dalam Qur'an bisa jadi benar terjadi, karena burung gagak bisa menggali sebuah lubang. Dan dari sini kita juga harus mengetahui bahwa petunjuk dari Allah itu datangnya dari tanda-tanda alam, seperti burung gagak ini yang diperintahkan untuk menggali sebuah lubang tepat setelah anak Adam membunuh saudaranya sendiri. 

Kisah Nabi Adam berdasarkan Al-Qur’an 2


         2. Manusia Pilihan
“Sungguh, Allah memilih Adam dan Nuh dan keluarga dari Ibrahim dan keluarga dari I’mran melebihi dunia –
Keturunan, sebagian dari mereka dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”
(Q.S Al I’mron ayat 33-34)

Ayat diatas menjadi pengokohan bahwa Adam termasuk dari manusia yang dipilih Allah. Dalam Qur’an sendiri, terdapat beberapa ayat yang menyatakan bahwa Allah memilih untuk diri-Nya hamba-hamba-Nya. Maka beruntunglah orang-orang yang dipilih oleh Allah karena masih diberikan iman (kepercayaan) untuk beribadah maupun bertaubat. Ayat ini juga memberi informasi bahwa sebagian manusia berasal dari keturunan Adam.

2.      3. Isa dan Adam
“Sungguh, perumpamaan dari Isa untuk Allah adalah seperti dari Adam. Ia menciptakan Adam dari debu; kemudian Dia mengatakan kepadanya “Jadilah,” dan jadilah dia.”
(Q.S Al-I’mran ayat 59)

Ayat diatas memiliki makna yang sangat penting bagi kita untuk memahami penciptaan manusia. Jika perumpamaan penciptaan Isa adalah seperti penciptaan Adam, maka bisa diasumsikan bahwa Adam dan Isa memiliki proses penciptaan yang sama. Mengenai proses penciptaan Isa, beliau dilahirkan tanpa Ayah (tanpa adanya hubungan seks/intim) oleh Maryam. Jika kita mengambil asumsi yang sama, maka Adam pun dilahirkan tanpa Ayah (tanpa adanya hubungan seks/intim) seperti Isa. Proses kelahiran tanpa Ayah dalam manusia telah terbukti dalam sains yang dikenal sebagai Parthenogenesis.
Sedangkan yang dimaksud penciptaan Adam dari debu, kemungkinan merujuk pada nilai ukuran. Anda bisa melihat contohnya dalam istilah sedimentologi, dimana terdapat banyak variasi ukuran butiran. Maka debu yang dimaksud disini sangat mungkin merujuk pada ukuran sel sperma/ovum, yang kemudian terfertilisasi.

Namun kita mengetahui bahwa Adam diciptakan dari tanah liat. Asumsi dari hal ini adalah, adanya dua proses penciptaan Adam; yang pertama di langit dan kedua di bumi. Saat di langit, Adam diberikan bentuk dari tanah liat, kemudian ditiupkan ruh Allah kepadanya, maka hiduplah dia. Sedangkan saat di bumi, Adam terlahir tanpa Ayah dari fertilisasi sel sperma dan ovum dalam rahim suatu makhluk (yang secara logika seharusnya memiliki kandungan DNA paling dekat dengan manusia).

Lalu bagaimana Adam turun dari Surga ke bumi? Jika kita simak baik-baik, yang tidak berubah dari saat Adam berada di Surga dan Bumi, adalah jiwa/ruh dari Adam itu sendiri. Maka sangat mungkin.. bahwa sejatinya, sebelum diturunkan ke Bumi, Adam dicabut ruh/jiwanya (meninggal) di Surga. Kemudian Allah menciptakan tubuh Adam di Bumi dalam sebuah makhluk tanpa Ayah dan ditiupkannya ruh/jiwa Adam kedalamnya. Menurut saya, ini adalah penjelasan paling logis bagaimana manusia diturunkan ke Bumi dari Surga.

Catatan:
Berikut akan saya berikan contoh mengenai nilai ukuran butir, berdasarkan skala Wentworth:

    Tabel 1. Skala Wentworth dengan modifikasi (Wentworth, Chester K.,1922)
                                         
Sementara mengenai proses parthenogenesis, dijelaskan sebagai berikut:
Beberapa orang memiliki tisu ovarian dan testikular dalam diri mereka, antara dalam gonad yang sama atau berlawanan. Orang-orang ini bisa disebut sebagai hermaprodit asli (True Hermaprodites). Ovotestis adalah sebuah struktur bipolar yang menunjukkan tisu ovarian di bagian atas dan tisu testikular di bagian bawah dan ini bisa ditemukan pada sebuah posisi ovarian atau dalam posisi yang lebih caudal. Sebuah fallopian tube dan vas deferens tidak pernah ditemukan bersamaan dengan atau bersebelahan dengan sebuah ovotestis. Tes protein SRY dilakukan dalam kedua porsi ovotestis dari testikular dan ovarian yang menunjukkan bahwa protein SRY (TDF) tidak menghalangi pertumbuhan ovari. Sementara kamar ovarian dari sebuah ovotestis menunjukkan bukti adanya ovulasi saat pubertas dalam sekitar 50% kasus, spermatogenesis tidak pernah terlihat dalam porsi testikular dari sebuah ovotestis. Spermatogenesis hanya terlihat pada testis tunggal/tersendiri yang ditemukan dalam hermaprodit asli. Sekitar 10% dari hermaprodit asli diturunkan/berasal lebih dari satu zigot dan adalah chimeras (chi 46,XX/46XY). Dalam chimerisme, dua oosit difertilisasi oleh dua spermatozoa, kemudian terjadilah fusi kedua embrio tersebut. Maka, chimerisme terjadi akibat dari fusi dua zigot berbeda dalam satu embrio. Spektrum fenotipik dari 46,XX/46,XY subjek chimeric sangat bervariasi, mereka bisa normal (laki-laki atau perempuan) atau ambigu. Banyak kasus telah dilaporkan dalam literatur dan keturunan (anak-anak) telah diamati dalam beberapa pria dan wanita (Irmak, M.Kemal, 2010).

Friday, October 25, 2019

Kisah Nabi Adam berdasarkan Al-Qur’an 1


Theory of Evolution of Man
Sumber Gambar dari Google
Kisah Nabi Adam adalah kisah yang paling umum kita jumpai dalam tiap agama. Adam disebut sebagai manusia pertama yang berada di bumi, memberikan keturunan yang meliputi berbagai suku dan bangsa. Masih terdapat berbagai perdebatan mengenai kebenaran kisah Nabi Adam, juga terdapat beberapa versi berbeda dari sebagian kitab samawi. Apa kebenaran kisah ini? Apa kisah ini sesuai dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini? Untuk itu, saya akan menelaah ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan Nabi Adam.

1.      Awal Mula Manusia di Surga
“Dan ketika Tuhanmu mengatakan kepada para malaikat “Sungguh, Aku akan membuat di bumi seorang khalifah.” Mereka berkata “Apakah Engkau akan menaruh didalamnya sesuatu yang membuat kehancuran didalamnya dan menumpahkan darah, sementara kami memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Allah mengatakan “Sungguh, Aku mengetahui hal yang kamu tidak ketahui.”

Dan Dia mengajarkan Adam nama-nama semuanya. Kemudian Dia menunjukkannya kepada para malaikat dan mengatakan “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama ini, jika kamu berkata jujur (benar).”

Mereka mengatakan “Pujian kepada-Mu; kami tidak memiliki pengetahuan kecuali dari apa yang telah Engkau ajarkan pada kami. Sungguh, Engkaulah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Dia mengatakan “Wahai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama ini.” Dan ketika ia telah memberitahukan nama-nama itu, Dia mengatakan “Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui yang ghaib (tidak terlihat) dari langit dan bumi? Dan Aku mengetahui apa yang telah kamu perlihatkan dan yang telah kamu sembunyikan?”

Dan ketika Kami mengatakan kepada para malaikat “Bersujudlah kepada Adam”; maka mereka bersujud, kecuali Iblis. Dia menolak dan sombong dan menjadi yang tidak percaya.

Dan Kami mengatakan “Wahai Adam, tinggallah, kamu dan istrimu, di Surga dan makan darinya dalam berlimpah dari manapun yang kamu inginkan. Tetapi jangan mendekati pohon ini atau kamu akan termasuk ke dalam yang berbuat salah.”

Tetapi Syaitan membuat mereka keluar darinya dan mengeluarkan mereka dari apa mereka dahulu. Dan Kami mengatakan “Turunlah, sebagai musuh satu sama lain, dan kamu akan memiliki di dalam bumi sebuah tempat tinggal dan persediaan untuk suatu waktu.”

Kemudian Adam menerima dari Tuhannya kata-kata, dan Dia menerima taubatnya. Sungguh,  Dia adalah yang Maha Menerima Taubat, yang Maha Pengampun.

Kami mengatakan “Turunlah darinya, kalian semuanya. Dan ketika petunjuk datang kepadamu dari-Ku, siapapun yang mengikuti petunjuk-Ku – tidak akan ada rasa takut atas mereka, ataupun mereka akan bersedih.   

Dan mereka yang tidak percaya dan menolak tanda-tanda Kami – merekalah yang akan menjadi teman-teman dari Api; mereka akan tinggal didalamnya selama-lamanya.”
(Q.S Al-Baqarah ayat 30-39)

Ayat-ayat diatas memberikan cerita yang cukup panjang, namun untuk mempermudah memahaminya, saya akan membaginya menjadi beberapa bagian:

1. Saat Allah menyatakan kepada para malaikat bahwa Dia ingin menjadikan manusia sebagai “khalifah” di bumi, para malaikat mempertanyakan keputusan ini dengan bertanya “Apakah Engkau akan menjadikan di bumi itu sesuatu yang membuat kehancuran dan pertumpahan darah?” Disaat bersamaan, mereka membandingkan manusia dengan diri mereka sendiri dengan mengatakan “Sementara Kami memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Pesan tersirat yang terkandung dalam ayat ini adalah bahwa malaikat merasa diri mereka lebih baik untuk menjadi Khalifah di bumi daripada manusia. Selain itu, malaikat sudah mengetahui sikap, perbuatan, dan watak manusia, sehingga sangat mungkin.. jika sebelumnya Allah telah menciptakan manusia sebelum Adam. Dan dari percakapan ini, kita bisa tahu bahwa malaikat adalah makhluk yang dapat berpikir, dapat menyatakan pendapat dan memiliki kebebasan, sama seperti kita dan makhluk lainnya.

2. Setelah para malaikat menyampaikan pertanyaan mereka, Allah mengatakan “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Kemudian Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam dan menguji para malaikat dengan bertanya “Katakanlah padaku nama-nama ini, jika kamu berbicara benar (jujur).” Namun tidak ada malaikat yang mengetahui nama-nama itu, maka Allah memerintahkan kepada Adam untuk memberitahu mereka nama-nama itu. Kejadian ini untuk membuktikan kepada para malaikat bahwa ada hal-hal yang tidak mereka ketahui, namun diketahui oleh manusia. Sedangkan untuk nama-nama yang telah dipelajari oleh Adam dari Allah, ada dua kemungkinan; yang pertama ialah nama-nama tersebut sebelumnya telah ada di alam semesta, namun para malaikat belum diajarkan mengenainya. Yang kedua adalah bahwa nama-nama tersebut adalah hal-hal baru yang ada di alam semesta. Dalam hal ini, kemungkinan kedua memiliki kemungkinan lebih besar. Hal ini karena perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk lainnya adalah manusia memiliki kemampuan untuk “menciptakan” (invent) hal-hal baru. Bukti utamanya adalah perkembangan teknologi saat ini; yang mungkin tidak bisa dibayangkan pembuatannya 300 tahun sebelumnya.

3. Setelah itu Allah mengatakan “Bukankah Aku sudah katakan padamu bahwa Aku mengetahui yang ghaib dari langit dan bumi? Dan Aku mengetahui yang kamu perlihatkan dan kamu sembunyikan? Pertanyaan ini diberikan karena Allah mengetahui apa yang disembunyikan oleh “sebagian malaikat”. Hal ini kemudian terbuktikan dengan ujian berikutnya, dimana Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Dan semua malaikat bersujud, kecuali Iblis. Dia menolak dan sombong dan menjadi yang tidak percaya. Dari cerita ini, kita mengetahui bahwa sebenarnya Iblis berasal dari golongan malaikat. Dan sikap Iblis yang menolak dan sombong mengukuhkan pendapat sebelumnya bahwa malaikat memiliki kebebasan berpikir dan membuat keputusan dan juga, malaikat memiliki sifat mereka sendiri, sama seperti manusia. Terakhir, yang paling menarik adalah bagaimana Iblis termasuk dari mereka yang tidak percaya; dalam hal ini mungkin Iblis tidak percaya bahwa manusia adalah makhluk yang setara dengan mereka (malaikat).

4. Kemudian Adam dan istrinya dipersilakan untuk tinggal di Surga. Mereka diberikan kebebasan untuk memakan darimanapun yang mereka inginkan, kecuali dari satu pohon. Tetapi Syaitan membuat mereka keluar dari Surga dan mengeluarkan mereka dari keadaan mereka dahulu. Kisah ini memiliki bagian menarik, dimana Allah memberikan kebebasan yang luas namun hanya memberikan satu peraturan/larangan, namun manusia telah melanggar larangan tersebut. Ini membuktikan bahwa walaupun hanya ada satu peraturan/larangan, manusia pasti akan melanggarnya. Walaupun kita beralasan bahwa ia adalah salah syaitan namun syaitan hanya menggoda dan yang melakukan perbuatan tersebut adalah manusia, maka alasan tersebut tidak bisa diterima. Hal menarik yang kedua adalah bagaimana Syaitan bisa masuk ke dalam Surga untuk menggoda Adam dan istrinya. Siapakah Syaitan itu? Mungkin akan kita ketahui dalam ayat-ayat berikutnya.

5. Setelah Adam dan istrinya dikeluarkan dari Surga, mereka diperintahkan untuk turun darinya dan pergi ke Bumi. Yang menarik adalah pembukaan dari perintah ini: “Turunlah, sebagai musuh satu sama lain”, yang mengisyaratkan bahwa manusia pasti akan saling bermusuhan. Kemudian adalah jaminan bagi manusia bahwa di bumi mereka akan diberi tempat tinggal dan persediaan untuk suatu waktu.

6. Sebelum turun ke bumi, Adam menerima kata-kata dari Tuhannya dan Allah menerima taubatnya. Disini jelas bahwa Adam diajarkan  kata-kata untuk bertaubat yang kemudian diterima oleh Allah.

7. Hal terakhir sebelum turun ke Bumi, ialah pesan yang berisi peraturan, bahwa Allah akan menurunkan petunjuk kepada manusia dan siapapun yang mengikuti petunjuk tersebut tidak akan merasa takut atau sedih sedangkan yang tidak percaya dan menolak tanda-tanda Allah akan menjadi teman dari Api dan tinggal didalamnya selama-lamanya. Disini mungkin kita akan menanyakan petunjuk apa yang Allah beri atau bagaimana melihat tanda-tanda Allah. Mulai dari sini juga kita mengetahui mengenai adanya Surga dan Neraka dan ketentuan untuk memasuki salah satunya adalah untuk percaya atau tidak percaya terhadap petunjuk dan tanda-tanda yang Allah beri. Maka dari itu, semua ini tergantung dari pilihan manusia masing-masing.

8. Dari cerita diatas, kita dapat mengerti kejadian dari penciptaan Adam hingga ia turun ke bumi. Saya sendiri banyak memiliki pertanyaan mengenai kisah ini. Misalnya, jika memang manusia ingin dijadikan khalifah di bumi, mengapa ia diciptakan di langit dan dibiarkan tinggal di Surga terlebih dahulu? Seandainya Iblis tidak bersikap sombong dan tidak melawan perintah Tuhan, apakah alur ceritanya masih akan sama? Jika setiap makhluk memiliki kebebasan berpikir dan membuat keputusan, maka bagaimana Tuhan dapat mengetahui semua itu dan memprediksi semua alur yang mungkin terjadi? Bagaimana manusia diturunkan ke bumi dari Surga? Ada pertanyaan yang mungkin kita bisa temukan jawabannya dan ada juga pertanyaan yang mungkin saat ini belum bisa kita temukan jawabannya kecuali dengan bertanya langsung pada Tuhan. Namun yang jelas, kisah ini menjadi pelajaran bagi kita, sebagai masa awal manusia hidup di bumi.


Thursday, October 17, 2019

Pendahuluan dalam Islam

Al-Qur'an (Google Image)
Seperti yang kita semua ketahui, Islam pada masa ini terbagi-bagi menjadi berbagai aliran. Tumbuhnya aliran-aliran disebabkan oleh banyaknya kitab tafsir yang diikuti orang pada umumnya. Yang dimaksud kitab tafsir disini bisa berupa tafsiran ayat-ayat Quran maupun tafsiran dalam pembukuan hadist-hadist. Pada dasarnya, tidak ada salahnya mempelajari kitab-kitab tersebut jika hanya sekedar untuk mencari ilmu. Namun sesuatu hanya bisa disebut sebagai ilmu jika ia mengandung kebenaran, sedangkan kebanyakan dari kitab-kitab tafsir itu merupakan hasil pendapat seseorang yang bisa jadi salah.

Kelemahan dari umat Islam saat ini adalah kurangnya mereka dalam mendalami kitab agama mereka sendiri dengan alasan mereka membutuhkan acuan. Karena itu, jika hal yang mereka utarakan tidak sesuai dengan pendapat para ahli fiqih, ahli hadist, dan imam-imam terdahulu, maka mereka bisa dibilang telah berbuat kesesatan. Padahal diantara ahli-ahli tersebut, jikalau dihadapkan pada suatu persoalan, selalu ada pro dan kontra, sehingga tidak selesailah persoalan tersebut. Terdapat banyak area abu-abu dalam pelajaran hadist dan tafsir Qur’an; sehingga aku akan membawa umat untuk kembali pada sumber semua hukum yaitu Al-Qur’an.

Sebagai landasan dalam penulisan ini, aku hanya akan mengikuti sesuai ayat-ayat dalam Qur’an; sesuai dengan Surah Al-Imran ayat 7:
“Dia-lah yang menurunkan kepadamu, Buku; didalamnya terdapat ayat-ayat jelas – merekalah dasar dari Buku – dan lainnya tidak jelas. Sedangkan mereka yang dalam hatinya terdapat kesesatan, mereka akan mengikuti (ayat) yang tidak jelas; mencari pertentangan dan mencari tafsiran. Dan tidak ada yang mengetahui tafsiran tersebut kecuali Allah. Tapi mereka yang kuat dalam ilmu berkata “Kami percaya kepadanya. Semuanya berasal dari Tuhan kami.” Dan tidak ada yang akan teringat kecuali mereka yang memahami.”

Sedangkan banyak ayat lain yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang jelas, seperti:
“Ini adalah pernyataan yang jelas untuk manusia dan petunjuk dan instruksi (perintah, pengajaran, peraturan) untuk mereka yang sadar akan Allah.”  (Q.S Al-Imran ayat 138)

“Begitulah Kami membeda-bedakan ayat-ayat sehingga orang-orang yang tidak percaya akan berkata “Kamu telah belajar,” dan agar Kami membuat Qur’an jelas untuk orang-orang yang mengetahui.” (Q.S Al-An’aam ayat 105)

“Alim Laam Raa. Ini adalah ayat-ayat dari Buku yang jelas.” (Q.S Yusuf ayat 1)

“Alif Laam Raa. Ini adalah ayat-ayat dari Buku dan Qur’an yang jelas.” (Q.S Al-Hijr ayat 1)

Dari ayat-ayat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa Qur’an adalah kitab yang jelas, meski terdapat ayat-ayat yang tidak jelas sekalipun. Tetapi, walau kamu tidak mengerti maksud dari ayat-ayat yang tidak jelas itu, kamu akan tetap mempercayainya jika kamu termasuk orang-orang yang percaya. Maka dari itu, aku akan menulis catatan berdasarkan ayat-ayat dalam Qur’an karena pada hakikatnya, Qur’an dan seluruh ayatnya itu jelas. Disini, aku tidak akan mengambil tafsiran dari orang lain, tidak akan menulis hal-hal yang tidak aku tahu dan sebisa mungkin akan mencatat sesuai dengan terjemahan aslinya.

Dan semoga yang membaca catatan ini, tidak berbuat seperti yang tertulis dalam Q.S Yunus ayat 39:
“Namun, mereka telah menolak (hal) yang tidak mereka liputi dalam ilmu dan tafsiran yang belum datang kepada mereka. Begitulah orang-orang sebelum mereka menolak. Maka perhatikanlah bagaimana akhir dari orang-orang yang berbuat salah.”

Dalam hal ini, aku akan memberi contoh. Aku yakin semua orang tahu kisah bagaimana Fir’aun pada masa Musa ditenggelamkan dan tubuhnya di selamatkan Allah dari terkubur di laut, seperti yang dikisahkan dalam Surah Yunus ayat 90-92:

“Dan Kami mengambil Bani Israel melewati laut dan Fir’aun dan pasukannya mengejar mereka dalam kekuasaan (zalim) dan permusuhan sampai, saat penenggelaman menyelimuti dia, dia berkata “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israel dan aku termasuk dari yang berserah diri (Muslim).

Sekarang? Dan kamu telah tidak menaati (melanggar) sebelumnya dan termasuk dari yang membuat kerusakan?

Maka hari ini Kami akan menyelamatkan tubuhmu agar kamu dapat menjadi, untuk orang-orang yang mewarisimu, sebuah tanda. Dan sungguh, banyak diantara manusia, mengenai tanda-tanda Kami, tidak peduli.”

Mumi dari Rameses II

Kebenaran mengenai ayat-ayat diatas hanya dapat ditelaah kebenarannya pada saat penemuan jasad Fir’aun yang ditemukan tahun 1881 (Mumi dari Rameses II) dan tahun 1898 (Mumi dari Merneptah, pewaris Ramses II). Sedangkan sebelum penemuan mumi raja-raja tersebut, bisakah kalian bayangkan bagaimana orang-orang yang memiliki penyakit hati menafsirkan ayat-ayat ini? Bahkan pada masa Imam Al-Ghazali hidup, terdapat banyak sekali orang yang mengaku ulama’ dan ustadz yang membuat-buat penafsiran yang menyesatkan. Contohnya adalah tongkat Musa di tafsirkan sebagai kebijaksanaan dan kewibawaan Musa, yang mereka artikan bahwa Musa disini tidak benar-benar membawa tongkat, namun hanya sebagai perumpamaan. Itulah yang membuat Imam Al-Ghazali menyusun Kitab Ihya’ Ulumuddin yang menjadi karya besar hingga saat ini. Maka dari itu janganlah kalian menolak ilmu yang belum kalian kuasai dan tafsiran yang belum datang kepada kalian agar kalian tidak termasuk menjadi orang-orang yang salah. 

Sedangkan mengenai hadist; banyak diantaranya terkumpul, hilang dan diubah pada masa kegelapan Islam, dimana kekhalifahan Islam runtuh. Para imam terdahulu telah berusaha mengumpulkan semua hadist yang ada dan membukukannya. Namun, maraknya hadist-hadist palsu di kalangan umat pada masa itu menimbulkan kesesatan baru, sehingga umat Islam telah terbecah-belah dalam berbagai golongan seperti yang kita lihat saat ini. Kelemahan fatal dari hadist adalah tidak bisa dibuktikan kebenarannya; lewat validasi maupun verifikasi (karena Nabi Muhammad SAW telah tiada).

Sebuah hadist tidak bisa dibuktikan kebenarannya, pun tidak bisa dibuktikan bahwa ia salah. Maka dari itu terciptalah sebuah sistem hadist yang bisa dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu hadist shahih (kuat) dan hadist dhaif (lemah). Bahkan untuk hadist yang sama, para ulama’ bisa jadi menempatkan hadist tersebut dalam golongan yang berbeda. Selain itu, permasalahan hadist juga adalah adanya pertentangan yang bertolak belakang; sesama hadist maupun dengan ayat Al-Qur’an. Sebagai contoh, ada hadist-hadist yang mendukung pembukuan Al-Qur’an dan ada juga hadist-hadist yang menolak pembukuan Al-Qur’an.  

Pada masa kegelapan Islam sangat mudah untuk membuat hadist palsu terutama karena tidak adanya pengawasan dan juga karena adanya ustadz atau ulama’ yang ingin membuat keuntungan pribadi. Jikalau kalian hafal runtutan perawi dan sanad dari sebuah hadist, maka kalian bisa membuat hadist palsu dengan mudah. Maka dari itu yang paling penting dalam membedakan itu hadist palsu atau bukan adalah dari isinya. Dari hal ini, saya mengikuti ulama’ terdahulu yang berpendapat:

“Jika suatu hadist tidak sesuai dengan Al-Qur’an, maka dia akan mati secara mat’n (isi), walaupun ia hadist shahih sekalipun. Sebaliknya, jika hadist itu sesuai dengan Al-Qur’an, maka dia akan menjadi lebih kuat, walaupun ia hadist dhaif sekalipun.”

Sekiranya begitu saya sampaikan, rangkaian penulisan catatan ini akan mengikuti dasar-dasar yang telah saya sebutkan diatas. Semoga kita semua mendapat rahmat dan petunjuk dari Allah.

Saturday, October 5, 2019

Surat untuk Ibu



Ibu adalah sosok yang paling kuat dalam hidupku. Walau berbagai masalah datang, dia yang paling bekerja keras. Ibu juga sangat sayang dengan anak-anaknya; bahkan berani mengambil resiko untuk mengasuh tiga anaknya sendirian saat bercerai dengan Bapak. Keyakinan yang kuat, pekerja keras, cerdas dan penyayang.. mungkin adalah empat kata yang cukup mewakili pribadi Ibu.

Ibu, banyak hal yang telah Ibu lalui. Banyak kejadian; kebahagiaan maupun kesedihan.. yang telah ibu rasa. Mungkin bagi orangtua, rasa sakit paling besar adalah ketika anak yang paling kita sayang malah membentak. Atau ketika kita, sebagai orangtua, melakukan kesalahan dan membuat anak kita marah atau kecewa, dimana kekecewaan anak itu lebih menyakiti kita. Akupun juga memiliki masa-masa dimana aku adalah anak yang paling melawan saat itu.. dan tiap kali aku mengingatnya, selalu ada rasa malu dan penyesalan dalam hati.

Ada masa-masa dimana aku marah dengan ibu, untuk hal sepele dan hal yang besar. Ada masa-masa dimana kita sering berdebat mengenai agama dan kita tidak kunjung menemukan kesepakatan dalam perdebatan itu. Namun dibalik semua itu, selalu ada rasa sayang dan rindu ketika kita sudah saling berjauhan.

Ibu, anakmu ini tidak memiliki prestasi hebat. Anakmu ini hanyalah seseorang dengan bakat biasa dan keahlian yang terbatas, tidak seperti adik-adikku yang jauh lebih berbakat dan hebat. Tapi percayalah walau aku seperti ini, aku telah mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari Tuhan. Dan percayalah, jika suatu saat nanti Ibu sudah tua dan anak-anakmu pergi berkelana, akulah yang akan menemani Ibu nanti. Biarlah adik-adikku yang mengubah dunia di luar sana.


Aku mungkin bukan anak yang sepenuhnya baik. Ada saat-saat dimana aku merepotkan, menyebalkan dan melawan. Aku harap di luar sana, tidak banyak anak yang bersikap sepertiku ini. Hormatilah orangtua, mereka yang mengasuhmu saat kamu kecil dan tidak berdaya dahulu. Aku juga memperhatikan, kebanyakan orang pada masa ini malah lebih tega kepada orang yang dia sayang ketimbang orang yang tidak mereka kenal. Jika suatu saat kalian seperti itu dan sudah cukup dewasa untuk menyadari kesalahan; maka berubahlah. Tidak ada kata terlambat untuk berubah, kecuali maut sudah mendatangi kalian. Jika kalian sulit untuk berubah, maka jangan pernah menyayangi siapapun dan anggap setiap orang sebagai orang asing; agar kalian berlaku sopan dan tidak menyakiti mereka. Namun jika hati kalian kotor dan tertutup, maka nasihat ini tidak akan berguna untuk kalian.

Dan cucilah kaki ibumu, paling tidak sekali seumur hidup. Niat dan lakukanlah dengan sungguh-sungguh karena itu adalah perbuatan yang sakral. Aku masih ingat dulu saat pertama kali melakukannya, aku sedikit malu dan gugup. Namun sekarang aku bersyukur karena telah melakukannya. Percayalah, kalian akan bangga dengan menghormati orangtuamu dan orangtuamu pun akan bangga memiliki anak yang mengasuh mereka di hari tua. Namun jika orangtua kalian menyuruh kepada berbuat kejahatan, tindakan asusila dan menyembah selain Allah, maka kalian diperbolehkan untuk melawan. Tolaklah mereka dengan cara yang baik dan jika kalian terusir, maka ingatlah bahwa bumi ini luas dan rezeki Allah itu berlimpah.

Friday, August 2, 2019

Warisan


Telah diberitahukan kepada saya bahwa tidak akan ada yang percaya lagi padamu dan umur pun telah ditentukan, maka saya akan mewariskan sebagian ilmu yang ada pada saya. Jikalau nanti ada yang membaca dan bisa memahami pesan dan ilmu ini, maka apa yang kamu dapatkan itu untukmu. Sedangkan jika ia tidak dapat memahami, maka sebagian hatinya masih dinodai oleh dosa, maka hendaklah ia menyucikan dirinya, bertaubat dan bersedekah.

Allah telah mengabarkan dalam Qur’an, bahwa sebelum Dia menghancurkan suatu negeri, maka ia akan mengirimkan seorang pemberi peringatan. Tiap nabi adalah pemberi peringatan, namun nabi terakhir kita adalah Rasulullah Muhammad SAW, yang telah tiada. Lantas apakah dengan tiadanya nabi, kiriman seorang pemberi peringatan berhenti sedangkan negeri-negeri terus berkembang di dunia ini? Tidak, karena seorang pemberi peringatan akan tetap dikirimkan sesuai janji Allah, yaitu para ulama yang membacakan ayat-ayat Allah. Para ulama adalah pewaris nabi, maka sudah sepantasnya ia mengikuti sifat, perlakuan dan kata-kata para nabi. Jika ia tidak mengikuti para nabi, maka ia tidak pantas disebut sebagai ulama. Dan untuk masa ini, saya adalah pemberi peringatan bagi penduduk tanah jawa.

Disini saya juga akan memberitahukan mengenai tulisan Jayabaya; Ksatria Piningit yang mereka tunggu. Bahwa telah datang kepada mereka, seorang pemberi peringatan, namun mereka mendustakannya; karena mereka lupa dan buta. Ksatria Piningit itu seakan sembunyi bukan karena ia tidak ingin dilihat, namun karena orang-orang Jawa telah buta, sehingga mereka tidak dapat melihat bahwa ada dewa di depan mereka. Tidak, bahkan mereka tidak tahu apa maksud dari kata “dewa” itu sendiri, karena mereka mencampurkan tafsir dengan kitab agama lain. Padahal seorang dewa adalah mereka yang berbicara kebenaran dan kata-kata mereka menjadi benar, maka bagaimanakah mereka bisa lupa? Ini karena mereka hanya membaca bagian akhir dari Kitab Jayabaya, bukan seluruh kitabnya, maka ilmu yang ada pada mereka tidak utuh dan mereka membuat dugaan-dugaan tentang hal yang mereka tidak ketahui. Dan saya adalah yang paling dekat dengan ciri Ksatria Piningit itu karena saya menguasai Trisula Wedha. Dan dengan ini, tuntas sudah janji Allah untuk keturunan Nuh yang mewarisi seluruh kepulauan.

Setelah saya, tidak akan diturunkan lagi untuk orang Jawa seorang pemberi peringatan, maka siapapun yang mendapatkan manfaat dari ini, maka itu untuk dirinya sendiri. Tulisan ini adalah sebuah warisan, untuk siapapun di masa depan, jika kalian dapat memahaminya, maka ia akan menjadi pewarisku, meneruskan perjuangan di jalan Allah, di jalan sang Hyang.